Oleh: Devi Livia Puspita
Pada masa penjajahan Belanda, jalur Pantura semakin berkembang dengan dibangunnya jalan raya yang menghubungkan kota-kota di sepanjang pesisir utara Jawa. Jalan raya ini menjadi jalur utama untuk transportasi barang-barang antar kota di Jawa. Pada saat itu, jalur Pantura masih terbatas pada jalan raya yang belum memiliki fasilitas yang memadai. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, jalur ini semakin diperluas dan modern.
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah melakukan pembangunan dan perbaikan jalan raya di Pantai Utara Jawa, termasuk jalur mudik Pantura. Jalur ini menjadi semakin penting karena masyarakat Jawa menggunakan jalur ini untuk melakukan perjalanan ke kampung halaman atau melakukan aktivitas ekonomi. Pada era pemerintahan Presiden Soekarno, pembangunan jalan raya semakin diintensifkan. Pembangunan jalan tol pertama di Indonesia, yaitu Jalan Tol Jagorawi, dibuka pada tahun 1978. Sejak saat itu, jalur Pantura semakin berkembang dengan dibangunnya jalan-jalan tol baru yang menghubungkan kota-kota besar di Jawa. Hal ini membuat jalur Pantura semakin lancar dan mudah dilalui oleh para pengendara. Pada tahun 1990-an dan 2000-an, pemerintah kembali melakukan perbaikan dan pembangunan pada jalur mudik Pantura.
Antara lain pembangunan jalan tol Gempol-Pandaan di Jawa Timur dan pembangunan jalan tol Brebes-Tegal di Jawa Tengah. Pemerintah juga memperbaiki beberapa jalan raya yang rusak dan membangun jalur bypass di beberapa kota besar seperti Pati dan Rembang. Tahun 2010-an hingga 2021, pemerintah terus melakukan perbaikan dan pembangunan pada jalur mudik Pantura. Beberapa proyek yang dilakukan antara lain pembangunan jalan tol Solo-Kertosono, perbaikan jalan raya Pantura, dan pembangunan jalan bypass di beberapa kota besar seperti Pekalongan dan Kendal. Selama bertahun-tahun, jalur pantura sering mengalami berbagai masalah, seperti kecelakaan lalu lintas, kemacetan, banjir, dan longsor. Pada saat-saat tertentu, arus
lalu lintas di jalan raya pantura dapat sangat padat, terutama selama musim libur dan mudik Lebaran ketika jutaan orang melakukan perjalanan dari kota-kota besar di Jawa ke kampung halaman mereka di pedesaan. Untuk mengatasi masalah kepadatan lalu lintas di jalur pantura, pemerintah Indonesia telah mengambil berbagai langkah, seperti membangun jalan tol, meningkatkan kualitas jalan raya pantura, dan memperbaiki transportasi publik di sepanjang jalur tersebut. Hingga saat ini, jalur pantura tetap menjadi salah satu jalan raya paling penting dan ramai di Indonesia. Jalan raya ini membentang sepanjang 1.167 km dan melewati berbagai kota besar, desa, pantai, dan lokasi wisata di Jawa. Jalur pantura juga menjadi salah satu rute utama bagi orang- orang yang melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bali dan sebaliknya. Dalam sejarahnya, jalur mudik Pantura telah
menjadi bagian integral dari kehidupan dan budaya masyarakat Indonesia. Dari zaman penjajahan hingga era modern saat ini, jalur mudik Pantura tetap menjadi jalan raya utama yang menghubungkan berbagai kota di pantai utara Jawa dan memfasilitasi perjalanan pulang ke kampung halaman selama perayaan Idul Fitri. Dengan berkembangnya jalan tol juga, tidak menyurutkan jalur ini menjadi jalur yang dipilih pemudik untuk pulang ke kampung halamannya. Jalur ini masih eksis hingga sekarang untuk dilalui para pemudik karena jalur ini dekat dengan pesisir pantai ujung utara Jawa. Sudah menjadi hal yang lumrah terjadi kemacetan panjang di sepanjang jalur Pantura ini dari tahun ke tahun saat libur lebaran dan hal ini tidak bisa dihindari.