Oleh: Arif Kurnia Rachman
“Sebagaimananya, manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk berbuat salah dan khilaf, maka saatnya manusia harus menyadari kesalahan dan berusaha kembali ke fitrah dengan cara memperbaiki hubungan sesama manusia (human relations) secara baik.”
Membeli pakaian baru atau sering dikenal secara luar kegiatan membeli baju baru sudah menjadi bagian atau tradisi tak tertulis yang sudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia sejak lama. Boleh dibilang tradisi membeli baju atau pakaian baru untuk mempersiapkan momen Lebaran sudah mandarah daging bagi umat Muslim di Indonesia.
Baik berbentuk beli jadi ataupun hasil buatan dari kain yang dibelinya. Seakan-akan baju baru ini menjadi sebuah keharusan masyarakat Indonesia untuk mempersiapkan perayaan hari raya idul fitri. Mungkin kebiasaan ini tidak lepas dari pemaknaannya dari lebaran itu sendiri. Menurut artikel yang dibuat oleh Prof. HM Baharun dalam Republika dengan judul Makna Idul Fitri dan Lebaran, sesungguhnya, hakikat hari raya Idul Fitri adalah perayaan kemenangan iman dan ilmu atas nafsu di medan Jihan Ramadhan. Setelah berhasil menundukkan nafsu, kita dapat kembali ke fitrah. Kembali ke fitrah (Idul Fitri) berarti kembali ke asal kejadian. Pemaknaan momen seperti inilah menimbulkan rasa-rasa menjadi sebuah yang baru ataupun berbeda dengan sebelumnya.
Secara sederhananya, setelah manusia telah melewati puasanya yaitu menahan nafsu selama 30 hari lamanya. Disaat Idul Fitri itulah manusia tersebut terlahir kembali menjadi manusia yang suci atau bersih. Dari pemaknaan inilah, tergeraklah rasa untuk memakai atau membeli pakaian yang baru. Sebagai gambaran bahwa dirinya telah berubah setelah menjalani 30 hari berpuasa menahan nafsu dan terlahir kembali menjadi individu yang berbeda dengan sebelumnya disaat hari raya Idul Fitri atau Lebaran.