Oleh: Arif Kurnia Rachman
Fenomena kebiasaan untuk memakai ataupun membeli pakaian baru bukanlah terjadi baru-baru ini. Melansir dari Historia.id, Penasihat Urusan Pribumi untuk Pemerintah Kolonial Belanda, Snouck Hugronje mencatat kebiasaan ini dimulai pada awal abad ke-20.
“Dimana-mana perayaan pest aini disertai dengan hidangan makan khusus, saling bertandang yang dilakukan oleh kaum kerabat dan kenalan, pembelian pakaian baru, serta berbagai bentuk hiburan yang menggembirakan” tulis Snouck dalam suratnya yang termuat dalam “Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936 Jilid IV”.
Pada tahun 1900, rakyat jelata mulai memiliki banyak pilihan untuk membeli pakaian baru. Harian De Locomotief, 30 Desember 1899, misalnya menggambarkan suasana orang-orang jelata yang mulai berpakaian Barat. Awalnya berlebaran dengan menunjukkan peci dan sarung baru, seiring perkembangannya melebar menjadi sepatu, celana panjang dan pakaian eropa lainnya.
Semakin maraknya masyarakat pribumi kala itu untuk memakai atau membeli pakaian baru tersebut, berimbas pula pada pertumbuhan indsutri tekstil di Hindia Belanda. Pangsa pasar mode pakaian semakin meluas bahkan masa-masa menjelang Lebaran menjadi masa penjualan terbaik. Hingga pada tahun-tahun resesi ekonomi di tahun 1930, harga-harga pakaian hingga tekstil mengalami penurunan. Walaupun mengalami hal seperti itu, sekelompok masyarakat kecil tetap mampu membeli pakaian baru menjelang Lebaran pada masa itu.
Berbeda zaman berbeda pula apa yang dirasakan masyarakatnya, hal ini tergambar ketika Indonesia pada masa kependudukan Jepang. Kebiasaan membeli pakaian baru jelang lebaran kali ini tersendat pada masa Jepang. Banyak kalangan kebawah tidak mempunyai cukup uang dan barang-barang menjadi sangat langka. Menurut Thomas J. Lindblad dalam Krisis Ekonomi dalam Sejarah Indonesia Abad ke-20 yang termuat dalam Dari Krisis ke Krisis: Masyarakat Indonesia Menghadapi Krisis Ekonomi Selama Abad 20 mengungkapkan “Produksi terus digenjot untuk memenuhi keperluan militer Jepang, bahan pangan di pasar banyak menghilang, rakyat digerakan untuk kerja paksa, bahkan pakaian disita.”
Keadaan mulai normal kembali setelah Indonesia merdeka. Tradisi memakai atau membeli pakaian baru pun terus berlanjut hingga sekarang.