Oleh: Arif Kurnia Rachman
Kebiasaan memakai atau membeli pakaian baru ini memang sudah tidak dapat dibendung keberadaannya. Tidak hanya sebagai antusias masyarakat Indonesia ataupun membangkitkan perekonomian dalam sektor pakaian maupun tekstil, adapula lainnya yang menjadi sisi negatif dari kebiasaan membeli pakaian baru ini.
Seperti dalam lagu Ismail Marzuki yang berjudu “Selamat Hari Lebaran.” Tidak hanya perihal korupsi, Ismail pun menyindir perilaku masyarakat yang berlebihan untuk menyambut hari kemenangan. Sindiran ini tidak lepas dari perilaku hura-hura orang kota bahkan orang desa. Hal tersebut tergambar pada liriknya yaitu:
“Dari segala penjuru mengalir ke kota. Rakyat desa berpakaian gres serba indah. Setahun sekali naik trem listrik pere. Hilir mudik jalan kaki pincang hingga sore. Akibatnya tenteng selop sepatu teropeh. Kakinya pada lecet babak belur berabe.”
Lagu tersebut diciptakan pada tahun 1950 oleh Ismail Marzuki. Kebiasaan tersebut terus terekam hingga sekarang. Masa dimana sudah serba dipermudah oleh teknologi. Kebiasaan memakai atau membeli pakaian baru ini seakan-akan berubah menjadi ajang pamer bagus-bagusan baju maupun kekayaan. Hal ini yang menjadi hal yang negatif bahkan dapat mencemarkan citra hari Kemenangan itu sendiri. Sudah menjadi rahasia umum, baik dari penulis maupun pembaca baik tetangganya, kerabat, ataupun teman dekat dapat dipastikan selalu memposting hari raya Idul Fitri dengan pakaiannya yang terbaik. Mungkin bila dibiarkan kebiasaan buruk ini akan merusak suasana Lebarannya, makna seharusnya berupa hari raya maaf bermaafan dirusak dengan kebiasaan yang dapat menimbulkan rasa iri dan dengki sesame manusia.