Oleh: Muhammad Rafi
Batik mulai popular di akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Lahirnya batik jenis batik cap menunjukkan masa industrialisasi. Diperkenalkannya Teknik otomatisasi pada era industrialisasi dan globalisasi, muncul batik jenis baru yakni batik printing. Batik printing mempengaruhi banyak arah industri batik dikarenakan prosesnya yang tidak memakan waktu lama dan harganya terbilang jauh lebih murah daripada batik tulis. Maka dari itu, timbulnya era industrialisasi menandai pasang surut dalam perbatikan khususnya industri kain batik di pulau Jawa. Batik telah menjadi salah satu bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Karena kainnya yang nyaman, batik digunakan untuk bekerja, mengikuti acara keluarga, dan juga menghadiri acara resmi. Batik juga tidak sulit untuk ditemukan dalam berbagai jenis tingkatan pakaian, baik dari proses produksi massa pakaian jadi, dalam bentuk lembaran kain.
Pengakuan internasional telah diberikan pada batik semenjak tahun 2009 oleh UNESCO (PBB) sebagai Budaya warisan Manusia. Tetapi batik Indonesia bukanlah sekadar produk massa bercorak tanpa makna. Terkait dengan masuknya batik dalam daftar UNESCO memacu masyarakat Indonesia untuk selalu melindungi budaya membatik, sehingga Bangsa Indonesia memiliki keharusan untuk memaknai dan melestarikan warisan budaya Indonesia ini, serta mengerti aspek-aspek dari tradisi batik yang harus dilindungi. 2 Oktober adalah tanggal yang ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional, dengan itu diharapkan ikon budaya ini akan selalu dilestarikan dan dimaknai terutama oleh Bangsa Indonesia.
Motif batik di Indonesia sangat beragam . Mayoritas tiap-tiap daerah yang ada di Indonesia memiliki motif batik tersendiri, hal ini menyebabkan motif tertentu akan diberi nama berdasarkan daerah asalnya. Sebagai contohnya yaitu batik motif Cirebon, Banyumas, Pekalongan, dan lain-lain. Motif yang bermacam-macam ini juga akan dipengaruhi oleh ciri khas dan makna yang ingin disampaikan dari setiap daerah. Jumlah motif kain batik yang tercatat hingga sekarang adalah 30 jenis motif. Karena tiap motif memiliki makna dan ciri khas tersendiri, dapat dikatakan bahwa dari selembar kain batik kita bisa belajar banyak tentang seputar kehidupan dan sejarah masa lalu. Motif pada kain batik dilahirkan berdasarkan keyakinan masyarakat dimana kain itu berasal. Adapun motif batik yang hanya diperbolehkan untuk penggunaan oleh keluarga keraton saja, hal tersebut disebabkan oleh adanya filosofi serta makna tersendiri yang membuat kain ini tak sekedar berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi memiliki arti.