Oleh: Randi Abdullah
Pandemi telah memaksa banyak aspek kehidupan yang dibatasi, salah satunya di bidang pendidikan. Sejak Maret 2020 kegiatan sekolah dilakukan secara online atau daring. Pemanfaatan teknologi bisa menjadi alternative dan juga merupakan sebuah gambaran penggunaan teknologi dalam bidang pendidikan. Penggunaan teknologi adalah upaya moderninasi pendidikan, Menilik Bagaimana pendidikan di modernisasi terutama zaman pergerakan nasi0nal. Moderninasi tidak hanya sekedar mengenai penggunaan teknologi,tapi ada inovasi gagasan paham-paham baru,metode,dan pembelajaran yang baru.
Periode akhir abad ke 19 hingga abad ke 20 merupakan suatu fase penting dalam sejarah Indonesia, karena dala Periode tersebut muncul orang-orang terpelajar yang memiliki kesadaran baru yang menginginkan suatu kehidupan pantas bagi bangsanya. Keinginan tersebut merupakan salah satu hasil dari adanya penerapan politik etis,terutama dalam bidang Pendidikan,politik ini diberlakukan oleh pemerintahab Hindia Belanda salah satunya karena sebagai upaya dalam membalas jasa atau perlakuan bangsa Belanda terhadap bangsa Indonesia.
Politik etis ini merupakan upaya untuk mensejahterakan bangsa Indonesia yaitu sistem irigasi, emigrasi atau transmigrasi dan
pendidikan. Dalam pendidikan,pendidikan ini sudah menjadi perhatian pemerintahan Belanda pada tahun 1818,terutama di Jawa dengan dikeluarkannya peraturan bahwa penduduk Bumiputera diperbolehkan untuk bersekolah di sekolah-sekolah Belanda. Sekolah atau pendidikan di abad ke 19 akhir ini berbeda dengan sifat pendidikan di abad ke 20, pendidikan di akhir abad ke 19 ditunjukkan untuk calon pegawai dinas pemerintahan. Pada tahun 1892,sekolah-sekolah Bumiputera dipecah menjadi dua kelompok yaitu, kelompok 1 dimana sekolah ini diperuntukkan bagi orang-orang pribumi yang terhormat atau kaya.
Sedangkan sekolah kelas 2 ini diperuntukkan bagi penduduk pribumi biasa. Hal tersebut memberikan gambaran bagaimana kondisi sosial pada masyarakat Jawa pada awal abad 20 dimana masyarakat terdapat penggolongan-penggolongan masyarakat berdasarkan kelas-kelas yang menyulitkan untuk saling berinteraksi antar kelas sosial. Hal itu berkaitan dengan pendirian sekolah Dokter Jawa , yang dalam perkembangannya diubah dengan apa yang disebut STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsten) . Sekolah ini didirikan karena pengaruh tenaga kesehatan di Hindia Belanda, karena pemerintah
Belanda kewalahan menghadapi wabah yang terjadi di Hindia Belanda.
Munculnya sekolah tersebut salah satunya disebabkan oleh adanya sistem pendidikan yang berkembang,meskipun hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat masyarakat pribumi namun bisa membuka pandangan baru tentang keadaan masyarakat yang masih terbalakang sehingga muncul kesadaran -kesadaran dari sebagian pelajar dari sekolah STOVIA, seperti
Soetomo, Soewarno, Goenawan Mangoenkusuno, Angka Prodjosoerdirdjo, M.Soewarno, Muhammad Saleh,Soeradji dan Goembreg, yang dalam perkembangannya mendirikan organisasi-organisasi modern dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Munculnya tokoh-tokoh militan di sekolah STOVIA ini, tidak terlepas dari Lingkungan,dimana STOVIA yang terletak di
Batavia,yang dimana BATAVIA ini termasuk kota yang yang menjadi kegiatan Politik,ekonomi,dan kebudayaan, Lingkungan tersebut mendukung para intelektual yang memungkinkan diantara mereka saling beriteraksi dan saling bertukar pikiran mengenai berbagai hal sehingga Interaksi mereka menciptakan Ikatan yang kuat yang menumbuhkan Ide-Ide cemerlang