Oleh: Nazma Fauziah
Bulan suci Ramadhan merupakan momentum bagi seluruh umat muslim untuk meningkatan kualitas diri, memperbaiki akhlak dan perilaku. Kata Ramadhan sendiri memiliki arti panas terik yang membakar atau dapat menghapuskan. Maka secara makna bulan suci Ramadhan ini berpeluang bagi Allah SWT untuk membakar, menghanguskan, menghapuskan, membersihkan dosa-dosa yang dilakukan oleh hambanya tanpa kecuali (Ust. Adi Hidayat). Diriwayatkan oleh Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” Puasa merupakan ibadah yang sangat dicintai oleh Allah SWT dan paling mulia di sisi-Nya. Kalimat “kecuali puasa Ia untuk-Ku” menunjukkan keutamaanya dibandingkan ibadah-ibadah lainnya. Bulan suci Ramadhan telah
menggembleng umat muslim dalam waktu yang cukup lama hampir sebulan penuh melalui berbagai bentuk peribadatan. Selain itu, umat muslim selama bulan suci ramadhan juga dihadapkan dengan sesuatu yang membelenngu, menjajah, menyerang, dan menindas. Serta menghadapi musuh yang utama dalam manusia yakni hawa nafsu. Pada titik demikian ibadah puasa yang
dilaksanakan di bulan suci Ramadhan menjadi sangat berat karena dalam berpuasa seseorang tidak hanya menahan rasa haus dan lapar, tetapi juga menahan dan melawan diri
sendiri yang dikuasai oleh hawa nafsu. Maka wajar apabila seseorang yang telah melalui bulan suci Ramadha yang penuh tantangan akan mencapai derajat tertinggi yaitu taqwa.