Oleh: Nazma Fauziah
Berhasil Puasa Ramadan Khalifah keempat dari khulafaur Rasyidin, yakni Ali bin Abu Thalib menjelaskan kepada umat islam terkait indikator orang yang berhasil dalam berpuasa. Orang yang berhasil meraih kesuksesan dalam puasanya (memperoleh derajat muttaqien) menurut Ali bin Abi Thalib memiliki empat kriteria yaitu: Al Khoufu Minal Jalil, wal amalu bittanzil, wasy syukru ‘alal jazil war ridlo bil qolil, wal isti’dadu liyaumirrahil. Pertama, Al Khoufu Minal Jalil (rasa takut terhadap Allah SWT). Bentuk rasa takut tersebut akan dirasakan oleh seseorang yang berhasil dalam ibadah puasa dengan selalu merasa diawasi dan dipantau oleh Allah SWT. Selama waktu 24 jam penuh, 365 hari, setiap detik perbuatan kita akan terekam dengan jelas oleh CCTV Allah SWT yang tidak pernah akan salah atau rusak bernama Roqib dan Atid. Kedua, Wal ‘amalu bit tanzil (hidup berdasarkan dengan tuntunan al-Qur’an dan Sunnah Nabi). Orang-orang berikutnya yang berhasil dalam puasanya ialah orang yang menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai ukuran dalam berperilaku dikehidupannya. Al-Qur’an dan Sunnah merupakan arah peta di dalam jalan hidupnya. Apabila terdapat sesuatu yang halal menurut Al-Qur’an maka ikutilah begitupun sebaliknya jika di dalam Al-Qur’an terdapat sesuatu dikatakan haram maka hindari dan tinggalkan.
Ketiga, selanjutnya orang yang berhasil puasanya adalah wasy syukru ‘alal jazil war ridlo bil qolil (mensyukuri nikmat Allah dan ridho dengan yang sedikit). Pada indicator yang ketiga ini dikatakan orang yang berhasil puasa ialah orang yang senantiasa terhadap semua nikmat yang Allah SWT telah tetapkan untuknya, baik secara lisan maupun perbuatan. Selain itu, orang yang berhasil dengan puasanya mampu bersikap ridho manakala nikmat yang ia terima dari Allah SWT, belum sesuai dengan yang diharapkannya. Indikator keempat, indicator yang terakhir orang yang berhasil dengan puasanya ialah wal isti’dadu li yaumir rohil (selalu berjaga-jaga untuk menyambut hari yang sangat panjang, yaitu hari setelah kematian). Setiap manusia akan menemui
ajalnya seperti dalam firman Allah SWT dalam QS. Jumu’ah:8 “ sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu kan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Kematian pada setiap insan manusia itu pasti tetapi tidak ada yang mengetahui kapan ajal itu datang terkecuali Allah SWT. Maka dari itu berjaga-jaga untuk terus berbuat baik agar kembali kepada Allah SWT dalam keadaan khusnul khotimah. Dan orang yang berhasil dalam puasanya ia akan menyadari hal tersebut.