Oleh: Abdul Halim
Ibadah Haji merupakan bagain dari rukun Islam, tepatnya rukun islam yang kelima. Otomatis ibadah haji merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslim apabila dia mampu untuk melaksanakannya. Dari tahun ke tahun jumlah orang yang ingin menjalankan ibadah haji terus bertambah, dengan bertambahnya masyarakat yang ingin pergi untuk beribadah haji, tentunya pemerintah harus memberikan pelayanan dan berusaha untuk memudahkan orang-orang yang ingin beribadah haji. Pada saat ini banyak program-program dari pemerintah maupun
dari pihak swasata seperti agent travel yang bisa memudahkan orang yang ingin berangkat ibadah haji, dengan seperti itu bisa dibilang umat muslim tidak perlu pusing untuk memikirkan kesulitan-kesulitan seperti akomodasi perjalanan, tempat penginapan saat sudah sampai Arab, dan berbagai kebutuhan lain untuk menunjang dalam kenyamanan saat beribadah. Akan tetapi bagaimana kondisi umat muslim yang ingin beribadah haji pada masa kolonial pada masa lalu. Dengan kondisi bangsa yang sedang terjajah dan banyak diskriminasi yang tertuju pada pribumi saat itu. Apakah umat muslim pada saat itu bisa pergi untuk beribadah haji? Siapa yang mengurus untuk keberangkatan mereka? Apa transportasi yang mereka pakai? Bagaimana kondisi mereka saat sedang melaksanakan ibadah haji di Arab? Tulisan ini akan membahas berbagai dinamika yang terjadi ketika umat muslim yang ingin berangkat ibadah haji pada masa kolonialisme Belanda.
Perjalanan haji sudah lama dijalani oleh masyarakat Islam di Indonesia. Keterpanggilan masyarakat Islam di Indonesia untuk berangkat haji ini selain karena dorongan ruhaniyyah atau motivasi
keagamaan, juga karena maraknya perkembangan pelayaran yang ada. Sebagaimana dicatat bahwa teknologi pelayaran di kerajaan-kerajaan maritim pada saat itu sudah cukup pesat. Kedatangan
pedagang muslim beserta pendakwah yang berkelindan di perairan Nusantara tidak hanya menarik masyarakat pribumi untuk masuk agama Islam, tetapi juga semakin meningkatkan keinginan mereka untuk pergi berhaji. Bahkan, di tengah masyarakat, terdapat anggapan bahwa orang yang sudah pernah berhaji adalah Muslim yang lebih alim atau baik. Dengan kata lain, pengalaman
berhaji dapat menentukan tingkat keislaman seseorang.