Oleh: Dewangkara Widya Abimantrana
Menjelang perayaan Idul Fitri atau biasa disebut Lebaran menjadi waktu yang pas untuk bisa berkumpul, bertemu, bersilaturahmi dengan keluarga besar, serta berziarah, maka masyarakat berbondong – bondong pulang ke “kampung halaman” atau sekarang dikenal dengan istilah “MUDIK”. Lebaran dan Mudik merupakan dua hal yang tidak bisa terpisahkan dan menjadi momen yang sangat ditunggu oleh para perantau khususnya yang beragama muslim untuk bisa merayakan hari raya
Idul Fitri di kampung halamannya.
Mudik merupakan akronim dari bahasa Jawa yaitu “Mulih Dhisik” yang artinya pulang dulu sebentar. Pada saat Jakarta masih Bernama Batavia, untuk menyuplai hasil bumi demi terpenuhinya kebutuhan daerah Batavia maka hasil bumi tersebut diambil dari wilayah luar tembok kota selatan seperti Kemanggisan, Duren Kalibata, Kebon Jeruk, Kebon Kopi, Kebon Nanas, dan lain sebagainya. Para petani dan pedagang hasil bumi tersebut membawa dagangannya melalui sungai, dari situlah muncul istilah hilir – mudik, yang artinya sama dengan bolak – balik. Mudik atau menuju udik (kampung) saat pulang dari kota kembali ke ladangnya, begitu terus secara berulang kali. Di sisi lain masyarakat Betawi mengartikan Mudik sebagai “Kembali ke Udik”, mengingat mayoritas yang melaksanakan mudik adalah para masyarakat berasal dari daerah Jawa yang datang ke Jakarta
untuk bekerja.
Pada awalnya fenomena mudik tidak diketahui kapan awal mulanya, namun ada beberapa yang menyebutkan bahwa fenomena ini sudah ada sejak zaman Majapahit, jadi pada masa itu wilayah kekuasaan Majapahit sangat luas hingga Sri Lanka dan Semenanjung Malaya, Majapahit harus menempatkan para pejabatnya di tempat yang mereka kuasai hingga pada saat para pejabat tersebut pulang kembali ke pusat kerajaan untuk menghadap Raja dan mengunjungi kampung halamannya. Dari kebiasaan tersebut maka dikaitkan dengan munculnya fenomena mudik. Selain itu kebiasaan mudik juga dilakukan oleh para pejabat Mataram Islam yang berjaga di daerah kekuasaannya. Seperti pada zaman Majapahit, pada masa ini juga sesekali para pejabat pulang ke kampung halamannya untuk menghadap Raja pada saat Idul Fitri.
Tradisi Mudik mulai ramai pada masa awal kemerdekaan Indonesia, karena pada masa itu banyak masyarakat yang berbondong – bondong merantau ke Jakarta karena pada saat itu fokus pembangunan terdapat di Ibu Kota. Setelah sekian lama tinggal disana, munculah perasaan rindu pada kampung halamannya, maka dari itu munculah fenomena pulang kampung secara massal yang dilakukan oleh para perantau. Karena itu pada tahun 1960 an pemerintah Mulai memberikan perhatian serius mengenai fenomena mudik ini, dilihat dari dihidupkannya kembali jalur – jalur kereta api peninggalan zaman kolonial untuk menunjang keberlangsungan mudik, pada perkembangannya mudik juga dilakukan dengan moda transportasi seperti bus, kapal laut, hingga pesawat. Baru lah pada tahun 1980 an mulai banyak orang yang mudik menggunakan kendaraan pribadi hingga sekarang.