Oleh: Dita Dwi Utami
Jika kita melihat kilas balik dalam rekam jejak sejarah bangsa Indonesia, salah satu peristiwa sejarah yang sangat berkesan dan mewariskan nilai berharga yakni peristiwa Konferensi Asia Africa (KAA). Bagaimana tidak, Indonesia menjadi salah satu negara pemrakarsa yang memiliki andil penting dalam memperjuangkan nilai perdamaian. Selepas diselenggarakannya konferensi Colombo, diangkatlah sebuah usulan untuk menyelenggarakan konferensi negara-negara di Asia dan Afrika yang kemudian disetujui dan Indonesia terpilih menjadi tuan rumahnya. Konferensi tersebut kemudian diselenggarakan di Kota Bandung pada tanggal 18 Maret hingga 24 Maret tahun 1955. Tempat yang digunakan untuk konferensi Asia Afrika ini adalah gedung yang begitu megah pada masanya yakni gedung Societeit Concordia atau yang kita kenal saat ini sebagai Gedung Merdeka.
Pada pelaksanaan Konferensi Asia Afrika tersebut terdapat 29 perwakilan negara yang menghadiri dan satu negara yang tidak dapat menghadiri undangan yakni Federasi Afrika Tengah. Konferensi ini kemudian menghasilkan sebuah rumusan yang menjadi semangat baru terutama bagi negara-negara di Asia dan di Afrika yang pada saat itu masih tertindas dan tengah memperjuangkan kemerdekaan. Rumusan tersebut dikenal dengan “Dasasila Bandung”. Dari Dasasila Bandung inilah yang kemudian membawa sebuah nilai semangat umumnya bagi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dan Indonesia khususnya. Pokok nilai yang digemakan ialah semangat untuk bangkit dari penindasan, semangat perdamaian, dan semangat menjaga hak-hak asasi manusia. Seperti hal nya isi pidato Ir.Soekarno yang mengatakan harapannya bahwa setelah konferensi tersebut akan lahir kembali, pada masa awal selepas berlangsungnya Konferensi Asia Afrika, secara bergiliran beberapa negara di asia dan afrika kemudian merdeka dengan dilatarbelakangi semangat yang digemakan pada Dasasila Bandung.
Seiring mulai bangkitnya negara-negara di Asia dan Afrika, nilai-nilai dalam Dasasila Bandung menjadi spirit yang terus menyertai perkembangan dari negara-negara anggotanya. Semangat Konferensi Asia Afrika berwujud kerja sama serta saling mendorong kemajuan negara-negara anggotanya dalam persoalan ekonomi, kebudayaan, dan kemanusiaan. Seperti yang terlihat pada 65 tahun setelahnya, ketika dunia menghadapi wabah Covid-19. Seluruh negara di dunia berjuang untuk bertahan dan melakukan upaya terbaik menyelamatkan penduduknya untuk meminimalisasi keterjangkitan virus tersebut, dan dalam hal ini spirit dasasila Bandung juga masih relavan menjadi ruh persaudaraan negara-negara Asia Afrika. Pada era perjuangan yang berbeda ini, vaksin menjadi sebuah amunisi yang sangat diperlukan tetapi tidak mudah untuk didapatkan. Nilai kesetaraan yang menjadi pokok nilai konferensi asia afrika mendorong agar negara-negara di asia afrika mendapatkan haknya untuk dapat mengakses vaksin tersebut dan bersama-sama mempertahankan kestabilan ekonomi.