Oleh : M. Hilman Maulana
Sahur kemerdekaan sendiri dimulai ketika rapat yang dimulai pada tanggal 16 Agustus 1945 berakhir menjelang pukul 03.00. Setelah itu para peserta rapat membubarkan diri untuk bersantap sahur di di rumah Laksamana Maeda. Lauk sahur Bung Karno dan Bung Hatta saat itu sangat sederhana yakni roti, telur, dan ikan sarden. “Waktu itu bulan puasa. Sebelum pulang saja masih dapat makan sahur di rumah Admiral Mayeda. Karena nasi tidak ada, jang saja makan ialah roti, telur, dan ikan sardines. Tetapi tjukup mengenyangkan,” tulis Bung Hatta dalam buku “Sekitar Proklamasi”. Usai santap sahur, kedua proklamator itu pulang dengan Hatta diantar mobil Soekarno. Dalam pemilihan tanggal kemerdekaan pun Soekarno memiliki perhitungannya sendiri. “Pertama kita berada dalam bulan suci Ramadhan. Tanggal 17 jatuh pada hari Jum’at. Al Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan. Orang Islam melakukan sholat 17 rakaat dalam sehari,” ucap Soekarno seperti ditulis dalam situs Museum Kepresidenan Balai Kirti, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud.
Hingga akhirnya kemerdekaan dapat diraih di bulan suci yang penuh berkah. Para pejuang muda mampu menahan nafsunya agar tidak tergesa-gesa, tetapi tetap bersemangat agar proklamasi segera terlaksanakan. Begitu juga dengan golongan tua mampu mengondisikan emosinya, mampu beraktivitas seperti biasa dalam memperjuangkan kemerdekaan walau sembari menahan lapar dan haus. Kisah para pejuang ini dapat kita teladani sebagai contoh yang baik dan perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam bulan Ramadan.