Oleh: M. Hilman Maulana
Dalam buku autobiografi Bung Karno dan Bung Hatta. “Jam 3 pagi aku masih bangun. Aku tidak bisa tidur dan duduk di kamar makan seorang diri saat makan sahur. Keadaan dalam rumah sunyi sepi. Semua orang tidur. kamar makan kami langsung menghadap ke pekarangan dan pintunya terbuka sedikit,” tutur Bung Karno dalam autobiografinya yang berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. “Terdengarlah sayup suara mendesir dari balik semak-semak dan serombongan pemuda berpakaian seragam masuk dengan diam-diam” ujar Bung Karno. “Berpakaianlah Bung, sudah saatnya,” ujar Sukarni selaku pimpinan para pemuda yang ingin segera kemerdekaan diproklamirkan. “Ya, sudah saatnya untuk dibunuh! Jika aku yang memimpin pemberontakanmu ini gagal, aku kehilangan kepala, engkau pun juga. Kalau aku mati, coba siapa pikirmu yang akan memimpin rakyat bila datang waktunya yang tepat?” jawab Soekarno dengan berang.
Dalam keadaan ini Soekarno dan Sukarni bersitegang dengan argumennya. Sukarni pun akhirnya menjelaskan kedatangan para pemuda yang berusaha untuk menghindarkan pengaruh Jepang kepada dua tokoh tersebut. Selanjutnya Sukarni pun menghampiri Bung Hatta yang sedang sahur. Ia menyatakan sebanyak 15.000 pemuda akan menyerbu Jakarta pada 16 Agustus tengah hari untuk melucuti tentara Jepang.
“Di mataku sudah tergambar kehancuran cita-cita kami akan menegakkan Indonesia merdeka. Dan apakah jadinya dengan PPKI yang sudah diundang memulai rapatnya hari itu pukul 10.00,” tutur Bung Hatta dalam autobiografinya yang berjudul Untuk Negeriku Menuju Gerbang Kemerdekaan, Sebuah Autobiografi. Sebegitu menggebu-gebunya para pemuda menginginkan kemerdekaan meski sedang menghadapi bulan Ramadan.
Mereka rela pergi sebelum pagi untuk menjemput sang proklamator agar kemurnian kemerdekaan tidak tercampur oleh kepentingan bangsa Jepang. Dari hasil menjemput itu pun mereka mendapatkan sebuah jawaban bahwasanya kemerdekaan akan diprokla-masikan di tanggal 17 Agustus 1945 dan setelah itu juga disegerakan segala persiapan yang berkaitan dengannya. Perjuangan itu masih berlanjut di bulan Ramadan yang penuh kesucian hingga muncul istilah sahur kemerdekaan.