Oleh: Sofia Malinda
Peristiwa penting lainnya yaitu Selama Malahayati menjabat sebagai Laksamana ialah, beliau telah mengirimkan tiga utusan ke Belanda, yaitu Abdoelhamid, Sri Muhammad, dan Mir Hasan. Ketiga orang tersebut merupakan orang pertama dari kerajaan di Asia yang mengunjungi negeri Belanda. Selama Sembilan tahun, Laksamana Malahayati telah menjadi pemimpin Inong Balee, dimana dalam kurun waktu tersebut beliau ini telah berhasil memenangka peperangan yang beranggotakan kaum lelaki. Namun pada tahun 1606, perjuangan Laksamana Malahayati harus berakhir, ketangguhan beliau Bersama pasukan Inong Balee terpaksa harus berhenti dikarenakan Laksamana Malahayati gugur dalam pertempuran melawan Portugis di perairan Selat Malaka. Jasad Laksamana Malahayati kemudian dimakamkan di Desa Lamreh, Kecamatan Majid Raya, Kabupaten Aceh Besar atau berjarak 35km dari ibu kota provinsi Nangroe Aceh Darussalam atau pusat Kota Banda Aceh.
Walaupun telah gugur dalam pertempuran melawan Portugis, eksistensi Laksamana Malahayati masih terus dikenang, bahkan banyak literatur Barat maupun China yang menceritakan mengenai ketangguhan beliau. Walaupun di Indonesia sendiri nama Laksamana Malahayati kurang terkenal dibandingkan dengan pejuang Wanita lainnya seperti Cut Nya Dien ataupun Christina Martha Tiahahu, Seringkali Laksamana Malahayati ini disejajarkan dengan Semimaris, Katherina II, Kaisar Rusia, dan Permaisuri Raja Babilon oleh para peneliti barat. Pada tahun 2017, tepatnya sehari sebelum hari pahlawan yaitu tanggal 9 November 2017, Presiden Joko Widodo menetapkan Laksamana Malahayati dari Aceh sebagai pahlawan nasional melalui Kepres No115/TK/Tahun 2017.