Oleh: Sofia Malinda
Pada tahun 1585-1604, Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV memberikan jabatan strategis sebagai Kepala Barisan Pengawal Protokol Pemerintah kepada Malahayati. Selain menjabat sebagai Kepala Barisan Pengawal Protokol Pemerintah, beliau juga memimpin pasukan yang diberi nama Inong Balee yang berarti Wanita janda. Para janda ini merupakan para wanita yang ditinggal mati oleh suaminya yang gugur dalam pertempuran melawan para penjajah. Karena merasa memiliki nasib yang
sama, maka Malahayati pun melatih para janda tersebut untuk dijadikan sebagai pasukan Kesultanan Aceh yang Tangguh dan kuat untuk menghadapi pasukan Belanda atau Portugis yang datang. Untuk memperkuat armada Inong Balee ini, mereka mebangun benteng setinggi 100 meter di atas permukaan laut, yang menghadap kearah laut dengan lebar tiga
meter disertai lubang-lubang Meriam yang mengarah ke pintu teluk. Selain membentuk benteng, pasukan Inong Balee ini juga memiliki pangkalan militer yang terletak di Teluk Lamreh Krueng Raya.