Oleh: Ikhwan Al-Qisyam
Penolakan demi penolakan terus datang kepada tim nasional Israel yang akan bertanding pada perhelatan piala dunia U20 diIndonesia.
Sejak Israel lolos kualifikasi piala dunia U20 Indonesia, sudah muncul isu-isu penolakan dari kalangan ormas ataupun para pemangku jabatan di Indonesia. Dalam waktu dekat ini penolakan penolakan itu makin keras terdengar dari berbagai pihak, salah satunya adalah gubernur Bali dalam surat nya yang disampaikan kepada menteri agama “Kami mohon agar Bapak Menteri mengambil kebijakan untuk melarang tim dari negara Israel ikut bertanding di Provinsi Bali. Kami, Pemerintah Provinsi Bali menyatakan menolak keikutsertaan tim dari negara Israel untuk bertanding di Provinsi Bali,” bunyi isi surat Koster tersebut. Selanjutnya ada gubernur Jawa tengah Ganjar Pranowo yang menolak kedatangan tim Israel, dikutip dari CNN pada hari Senin (26/03/23) Ganjar menolak kedatangan tim Israel karena menurut itu sudah sesuai dengan amanat bung Karno untuk membela Palestina yang selalu disampaikan pada gerakan non blok dan konferensi Asia-Afrika. Hal ini tentu menjadi polemik di masyarakat pecinta bola khususnya, bagaimana tidak. Piala dunia U20 yang sebentar lagi akan digelar harus ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan oleh PSSI dan FIFA, isu-isu pun berkembang tentang PSSI yang akan disanksi oleh FIFA karena dianggap tidak profesional dalam menjalankan suatu event olahraga, isu yang paling kencang adalah Indonesia akan di banned oleh FIFA dalam segala keikutsertaan nya kedepan dalam segala pentas sepak bola dunia. Tentunya hal ini merugikan karena timnas Indonesia sedang dalam tren yang cukup positif selama beberapa tahun terakhir.
Setelah ditelusuri lebih lanjut hal seperti ini pernah terjadi dua kali pada negara Indonesia, pada tahun 1958 dan tahun 1962. Masing-masing sanksi itu dijatuhkan oleh FIFA pada saat kualifikasi piala dunia 1957 dan pada Asian games 1962.
Pada tahun 1957 saat akan melakukan kualifikasi piala dunia Indonesia harus menghadapi Israel sebagai lawan mainnya, hal itu kemudian ditolak oleh pemerintah pada saat itu dengan alasan politik, alasan lainnya adalah Indonesia takut kehilangan dukungan 14 negara Arab yang mendukung perjuangan Indonesia untuk merebut kembali Papua barat sebagai wilayah nya. Presiden Mesir gaban Abdul Nasser bahkan mengirim surat khusus atas pernyataan tersebut, menurut nya sikap Indonesia jika menerima pertandingan tersebut adalah tidak nir empati kepada negara-negara Arab yang tak sepaham dengan Israel.
PSSI pada saat itu tidak tinggal diam, mereka mengusahakan agar pertandingan tersebut harus terjadi karena takut adanya ketidakpuasan dari masyarakat yang menurut mereka lebih penting. PSSI melobi FIFA hingga terbang ke Swiss agar pertandingan tersebut tetap digelar, pssi mengusulkan pertandingan home-away ini dijalankan ditempat yang netral. Bahkan PSSI rela membayar ongkos timnas Israel ketika laga away dijalankan, timnas Israel tidak setuju dan tetap ingin laga home dijalankan di Israel yaitu Tel Aviv, tidak menemukan titik temu akhirnya laga tersebut pun gagal digelar.
Akhirnya FIFA menjatuhkan sanksi kepada PSSI karena dianggap tidak sanggup menjalankan sebuah pertandingan, komite eksekutif FIFA mencoret Indonesia pada kualifikasi piala dunia 1958 dan denda sebesar 5.000 Franc karena dianggap melanggar statuta FIFA pasal 6 karena tak mampu menjalankan suatu pertandingan.
Selanjutnya adalah pada ajang Asian games 1962, pada ajang Asian games IV 1962 ini seluruh negara partisipasi diundang ke Jakarta untuk melakukan perhelatan olahraga terbesar se Asia tersebut. Tetapi dua negara yakni Israel dan Taiwan tidak diundang atau bahkan ditolak kedatangan oleh pemerintah pada saat itu dan presiden Soekarno, penolakan Taiwan karena Taiwan dianggap bukan negara yang berdaulat Indonesia menganggap bahwa Taiwan masih masuk kedalam wilayah republik rakyat Cina pimpinan Mao Zedong tersebut, kemudian penolakan Israel dilatarbelakangi karena urusan konstitusi negara yang mendukung kemerdekaan Palestina sejak awal. Akhirnya Israel dan Taiwan tidak berpartisipasi pada ajang tersebut. Hal ini tentunya menjadi kontroversial, komite olahraga internasional (IOC) akhirnya membuat rapat di Swiss, akhirnya pada 7 Februari 1963 Indonesia dijatuhi sanksi dengan tidak boleh berpartisipasi pada ajang olimpiade 1964, sanksi ini adalah sanksi yang sangat berat karena Indonesia tidak dapat menghadiri event olahraga cukup lama, alasannya karena Indonesia mencampur adukkan unsur politik dan olahraga pada saat itu. Indonesia bisa saja lepas dengan syarat tidak mengulangi hal yang sama tetapi presiden Soekarno yang saat itu menjabat menyerang balik IOC yang dianggap tak adil karena mereka tidak menganggap cina sebagai peserta olimpiade juga. Akhirnya Indonesia bisa kembali pada olimpiade pada saat Soekarno diganti.
Jauh setelah dua kejadian di atas pada tahun 2015 Indonesia kembali di sanksi oleh FIFA, hal itu dikarenakan adanya campur tangan pemerintah kedalam PSSI. Di tahun 2015 adanya dualisme di tubuh PSSI membuat pemerintah lewat Kemenpora merasa harus menyelesaikan hal ini namun hal itu tidak sejalan dengan Statuta FIFA pasal 13 tentang kewajiban anggota, pasal 14 ayat 1 tentang suspensi, dan 17 tentang kebebasan anggota dan turunannya. Akhirnya sepakbola Indonesia dibekukan oleh FIFA pada 30 mei 2015. Akibatnya timnas Indonesia dilarang melakukan kegiatan seperti kualifikasi piala dunia 2018 dan kualifikasi piala Asia tahun 2019, serta timnas kelompok umur yang gagal berlaga di ajang AFF.
Keputusan untuk menolak Israel berlaga di beberapa tempat ini sebenarnya cukup aneh karena jika dilihat beberapa bulan ke belakang ada beberapa event olahraga selain sepak bola dengan adanya atlet Israel sebagai peserta namun tidak ditolak oleh pemerintah maupun masyarakat.
Yang pertama adalah Misha Zilberman, seorang atlet bulu tangkis yang berlaga di Istora Senayan pada tahun 2015, yang kedua adalah pada ajang panjat tebing dua atlet Israel yaitu Yuval Shemla dan Noa Shiran yang bertanding pada tahun 2022 kemarin. Yang paling baru adalah tiga atlet sepeda yang berlaga di velderome pada Februari lalu adalah Yakovlev, Rotem Tene, dan Vladyslav Loginov, tanpa adanya polemik yang berarti.
Spekulasi muncul kenapa banyak pemangku jabatan ini menolak tim Israel untuk berlaga di Nusantara, spekulasi paling ramai adalah soal mendapatkan suara jelang pemilu 2024. Karena sepakbola adalah olahraga paling digemari di negeri ini maka tidak heran siapa saja yang masuk bisa menghasilkan sesuatu yang besar baik itu positif ataupun negatif. Bola panas terus bergulir tentang bagaimana nasib Indonesia dalam beberapa jam terakhir, apakah Indonesia akan menjadi tuan rumah atau batal?.
Dilihat dari sisi pecinta bola seharusnya momentum piala dunia U20 ini menjadi hal yang ditunggu karena Indonesia yang menjadi tuan rumah otomatis lolos karena jatah sebagai tuan rumah. Ini adalah kesempatan emas untuk anak-anak bangsa memperlihatkan kemampuan mereka kepada dunia bahwa mereka bisa bersaing dengan negara-negara besar seperti Brazil, Prancis, dan lain-lain. Masyarakat juga tidak mengharapkan Indonesia keluar sebagai juara, tapi ada rasa bangga dan bahagia melihat sebuah negara yang terseok Seok sepakbola bisa tampil diajang bergengsi dunia walaupun kelompok umur.
Mungkin secara konstitusi dan undang-undang dasar kita benar dan memang benar kita tidak boleh mendukung Israel, dalam suatu konteks ini memang jika dilihat secara politis kita sebagai negara membiarkan Israel yang menjajah Palestina masuk begitu saja. Tapi berbeda dengan kacamata olahraga yang tidak seharusnya mencampurkan olahraga dengan politik yang sudah sangat berbeda.
Pada hari Rabu(29/03/2023) presiden Joko Widodo mengadakan konferensi pers untuk meyakinkan bahwa Israel bisa bertanding di Indonesia, presiden Jokowi menyebutkan bahwa jangan ada campur tangan politik dengan olahraga dan beliau segera mengirim PSSI terutama ketua umum Erick Thohir untuk bertemu dengan petinggi pipa yaitu Gianni Infantino di Swiss, mereka mengupayakan agar piala dunia U20 tetap bisa dilaksanakan di Indonesia dengan aman dan damai.
Per hari ini artikel ini ditulis piala dunia U20 20 di Indonesia dibatalkan oleh FIFA dengan beberapa alasan, disebutkan dalam situs resmi FIFA bahwa kejadian Kanjuruhan menjadi salah satu penyebab Indonesia gagal menjadi tuan rumah. Kekecewaan datang dari berbagai pihak terutama pemain U20 Indonesia seperti yang ditulis oleh punggawa Timnas Indonesia marselino Ferdinand dalam story Instagram nya “We lost our big dream,it’s not about me it’s about my friend’s dream” (“Kami kehilangan impian besar kami, ini bukan tentang saya ini tentang impian teman saya”). Setelah hasil ini diketahui banyak masyarakat yang meluapkan amarah mereka kepada Ganjar Pranowo dan Koster karena menurut mereka, orang-orang inilah yang mengakibatkan mimpi-mimpi anak bangsa hilang didepan mata.
Dengan ini bola panas Indonesia masih terus bergulir dari tahun ke tahun, tak pernah padam sebagai tanda kemajuan bahkan selalu saja ada halangan untuk maju, entah sampai kapan masyarakat Indonesia bisa menikmati sepakbola sebagai tontonan menarik dan bangga akan timnas nya sendiri