Konsep Identitas dalam Eksplanasi Sejarah dan Historiografi
Wildan Insan Fauzi
Setelah dikaji bahwa konsep identitas dan artikulasi mengandung konsep perubahan, apakah konsep itu bisa digunakan dalam kajian sejarah? Kajian sebelumnya mengenai identitas memperlihatkan beberapa variasi fokus kajian, yaitu perolehan identitas, bagaimana identitas dikleola, fragmentasi identitas, identitas cair masyarakat kontemporer, dan imajinasi dalam identitas (Abercrombie, Hill, Turner, 2010: 266).
Fokus kajian sejarah bukan hanya pada apakah identitas cenderung tetap atau berubah, namun juga pada aspek bagaimana identitas itu terbentuk. Dengan demikian, sejarah mengkaji aspek yang dalam bahasa Hall disebut esensialis dalam pembentukan identitas budaya. Kajian-kajian sejarah memperlihatkan politk identitas dimana sejarah atau geneologi dijadikan alat untuk memantapkan identitas kelompok serta melegitimasi kedudukannya (Kartodirdjo, 1993: 70). Pembentukan identitas suatu kelompok sosial dalam kajian sejarah biasa dikaitkan dengan memori kolektif. Sejarah dapat didefinisikan sebagai bentuk penggambaran pengalaman kolektif di masa lampau (Kartodirdjo, 1992: 59). Pengalaman kehidupan kolektif merupakan landasan untuk menentukan identitasnya. Dalam sejarah, terhimpun dan diawetkan memori kolektif mengenai pengalaman insani. Melalui memori, kita dapat diperkenalkan secara langsung dengan masa lampau. Pengetahuan langsung melalui memori ini ialah sumber semua pengetahuan kita tentang masa lampau (Russel, 1955: 49).
Konsep identitas menjadi bahan kajian Carneiro dan Cunha pada 1986, mereka mengkaji dinamika identitas budak Afrika Barat yang dibawa ke Brasil, Ketika dimerdekakan dan pulang lagi ke Afrika (Lagos), mereka malah disebut sebagai orang Brasil oleh masyarakat lokal (Burke, 2015: 84). Diaspora dan pembentukan identitas Bangsa Boer di Afrika dikaji mendalam oleh Soeratman (2012). Perubahan bagaimana etnis Tionghoa di Indonesia merepresentasikan identitas budayanya dalam dunia Pendidikan dikaji oleh Wiririatmadja (2003). Gerakan bandul politik identitas etnnis Tionghoa dipandang berubah dari etnisitas ke nasionalitas, dan dari nasionalitas ke etnisitas kembali (Wiriaatmadja, 2003: 2016). Kajian Carneiro dan Cunha dan Soeratman bisa diperdalam dengan cara pandang Hall sementara kajian Wiriaatmadja bisa dianalisa lebih kritis dengan pendekatan Tania Murray Li.
Korbert Ellias mengkaji para bangsawan hooligan (pengacau) masa restoasi Inggris dan Hunggaria pada abad pertengahan. Mereka cemas mendefinisikan identitas kebangsawanan karena tuntutan “standar” dan pembedaan dengan kebangsawanan lain. Hal tersebut membuat mereka membangun identitas dengan mengkaitkan bahwa mereka keturunan bangsa Hun yang barbar (Burke, 2015: 226). Studi Schama mengenai pembentukan identitas Belanda abad 17 yang ditunjukan dan perilaku metokok, kultus Batavia Kuno, hingga mitos Israel Kuno (Burke, 2015: 271). Hal tersebut semakin memperkuat tesis Hall tetang identitas budaya berkaitan dengan bagaimana identitas kelompok berkaitan dengan ketegangan antara memposisikan dan diposisikan.
Sejarawan menggunakan teori postkolonial tentang gejala identitas ganda (identitas cair) dan inferior pada masyarakat jajahan sebagai dampak dari praktik kolonialisme (Lubis, 2016: 79). Konsep postkolonial juga disinggung oleh Stuart Hall (2000). Dalam proses pembentukan identitas tersebut, masyarakat pascakolonial cenderung kembali menggali identitas budaya asli. Masyarakat yang baru merdeka berusaha menemukan berbagai kesamaan yang ada (sejarah dan ras) untuk melawan wacana kolonial. Bentukan ini dikenal dengan identitas budaya pascakolonial esensialis. Bentukan selanjutnya yang lebih dinamis, yaitu identitas budaya yang mempertanyakan kemurnian dan kestabilan identitas budaya karena identitas asal telah berbaur dengan wacana kolonial yang diterapkan bahkan diinternalisasi. Kajian sejarah Jamaika mengenai religi Afrika-Amerika, musik, perumahan, pakaian dari Hannerz (1987) dan Reinhard (2000) memperlihatkan aspek postkolonial dalam kajian sejarah (Burke, 2015: 159).
Konsep identitas dalam kajian sejarah muncul pada Analisa historiografi (sejarah penulisan sejarah). Konsep yang muncul adalah identitas indonesiasentis dan neerlandosentris. Neerlandosentris mengandung arti bahwa sejarah Indonesia dilihat dari pandangan Belanda. Dalam penulisan ini wilayah Indonesia disebut dengan Tanah Hindia Belanda yang dianggap milik Belanda (Mulyana, 2009: 40). Neerlandosentris nampak dari narasi sejarah yang melihat pemerintah kolonial Belanda lebih banyak berperan dalam menentukan kehidupan raja dan rakyat bangsa Indonesia, Para raja digambarkan sebagai penguasa yang memiliki penampilan dan prilaku yang jelek, Segala tindakan Belanda dianggap sebagai suatu yang sah dan benar. Indonesiasentris menunjukan istilah pandangan penulisan sejarah dilihat dari kacamata orang Indonesia. Penulisan sejarah Indonesiasentris mengandung arti bahwa segala peristiwa sejarah dilihat dari perspektif Indonesia. Untuk mencapai pandangan penulisan seperti ini maka membutuhkan adanya seleksi fakta dan penafsiran terhadap fakta yang sesuai dengan perspektif Indonesia Mulyana, 2009: 47).
Kajian historigrafi masa orde baru memperlihatkan bagaimana tentara membangun identitas politiknya melalui sejarah. Buku Ketika Sejarah Berseragam” karya Katharine McGregor (2008) dengan jeli telah berupaya untuk mengungkapkan motif-motif dan kisah-kisah di belakang proyek-proyek sejarah yang diabngun militer. Bagaimana militer mampu dengan cerdik mengkonstruksi “masa lampau” adalah gagasan besar dalam buku ini. Terakhir, politik identitas di Indonesia ternyata membutuhkan legitimasi sejarah. Karya Ahmad Mansur Suryanegara yang berjudul “Api Sejarah” sebanyak 2 jilid dan Tiar Bachtiar (2018) berjdul “Jas Mewah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah dan Dakwah” merupakan contoh kembalinya aspirasi politik Islam dalam historiografi Indonesia. Selain itu juga, bermunculannya karya-karya sejarah yang “menjadikan” PKI sebagai korban memperlihatkan juga politik identitas kaum kiri di Indonesia.
Referensi
Abercrombie, N., Hill, S., dan Turner, B. (2010). Kamusi Sosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bachtiar, T. A. (2018). Jas Mewah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah dan Dakwah. Bandung: Pro-U Media.
Burke, P. (2003). Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Dietrich, D. J. (1982) Psychohistory: Clio on the couch—or off?, Historical Methods: A Journal of Quantitative and Interdisciplinary History, 15:2, 83-90, DOI: 10.1080/01615440.1982.10594083
Eliasberg, W. (1944). Methods in Graphology. The Journal of Psychology: Interdisciplinary and Applied, 18:1, 125-130, DOI: 10.1080/00223980.1944.9917211
Lapp, Diane, et al. (1975) Teaching and Learning, Philosophycal, Pssyhological Curricular Applications, New York: Macmillan Publisher, Co. Inc.
Lu, K. (2014) A Jungian psychohistory: A. J. Toynbee’s use of analytical psychology in his theory of civilizations, International Journal of Jungian Studies, 6:1, 52-68, DOI: 10.1080/19409052.2012.754364
Hall, S. (1960). Cultural Identity and Diaspora, in Identity and Difference. Kathryn Woodward (ed), London, Thousand Oaks, Neew dehli: Sage Publication in Association with The Open University, 1997,London
Kartodirdjo, S. (1992). Pemikiran dan Perkembangan historiografi di Indonesia. Jakarta. Gramedia
Keesing, Roger M. (1989). “Creating the Past: Custom and Identity in the Contemporary Pacific.” The Contemporary Pacific, 1, 19-42
Li, T.M. (2000). Articulating Indigenous Identity in Indonesia: Resource Politics and the Tribal Slot. Comparative Studies in Society and History , Jan., 2000, Vol. 42, No. 1 (Jan., 2000), pp. 149-179. : https://www.jstor.org/stable/2696637
Li, Tania Murray. (2002). Proses Transformasi Daerah Pedalaman di Indonesia. Terjemahan Sumitro, S.N. Kartikasari. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Lubis, A. Y. (2016). Pemikiran Kritis Kontemporer: Dari teori Kritis, Culture Studies, Feminisme, Postkolonial, Hingga Multikulturalisme. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
McGregor, K. (2008). Ketika Sejarah Berseragam : Membongkar Ideologi Militer. In T. G. Narwaya. syarikat.
Mulyana, A dan Darmiasti. (2009). Historiografi Indonesia Dari Magis Hingga Struktur. Bandung: Refika Aditama
Oltmans, W. (2001). Dibalik keterlibatan CIA. Bung Karno Dikhianati? Aksara Karunia, Jakarta
Piliang, Y. A. (2002). Identitas dan Budaya Massa: Aspek-Aspek Seni Visual di Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti.
Ratna, N.K. (2008). Postkolonialisme Indonesia Relevansi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Roem, M. (1972). Bunga Rampai Dari Sedjarah. Jakarta : Bulan Bintang
Russel, B. (1955). Unpolar Essay. London: George Allen & Unwim, Ltd.
Simner, Marvin L. & Richard D. Goffin. (2003.) A Position Statement by the International Graphonomics Society on the Use of Graphology in Personnel Selection Testing. International Journal of Testing. 3:4, 353-364, DOI: 10.1207/S15327574IJT0304_4
Simpson, J. A., & Weiner, E. S. (1989). The Oxford English dictionary (2nd ed., Vol. VII). Oxford: Clarendon Press.
Soeratman, D. (2012). Sejarah Afrika. Yogyakarta: Ombak.
Suryanegara, A. M. (2017). Api Sejarah 1 (Vol. 1). Bandung: Surya Dinasti
Toffler, A. (1981). Education and the Future: An Interview with Alvin Toffler. Social Education, 45(6), 422-26.
Weinreich, P., & Saunderson, W. (Eds.). (2003). Analyzing identity: Cross-cultural, societal and clinical contexts. New York: Routledge.