Mawardi Umar[2]
[1] Makalah disajikan pada Seminar Nasional Pendidikan Sejarah, Kerjasama antara Asosiasi Pendidikan dan Peneliti Sejarah (APPS) dengan Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS UPI Bandung, di Bandung, Jawa Barat, 18-20 Maret 2011.
[2] Dosen Jurusan Sejarah UNJ
Pengantar
Pada dasarnya, sejarah merupakan cerita dari peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Gambaran tentang masa lampau tersebut bukanlah kenyataan dari masa lampau. Kenyataan sesungguhnya telah ditelan masa atau waktu.[3] Peristiwa tersebut tidak mungkin diamati lagi pada masa sekarang.
Semua peristiwa yang telah terjadi dan telah hilang dari dunia kenyataan hanya meninggalkan jejak-jejak atau bekas-bekasnya saja pada masa sekarang. Oleh karena itu, seseorang yang ingin meneliti dan mengkaji peristiwa yang telah terjadi itu harus melalui bekas-bekas yang fragmentaris yang masih tersisa dan dapat dijumpai sekarang. Bekas-bekas tersebut dapat berupa bekas dokumenter maupun bekas fisik, yang lebih dikenal dengan situs sejarah.
Situs sejarah, seumpama mesjid kuno, makam dan bangunan lama merupakan benda-benda yang cukup banyak terdapat di Aceh. Kehadirannya adalah tidak terlepas dari perjalanan yang panjang suatu masa kejayaan beberapa kerajaan yang ada di Aceh seperti Kerajaan Samudra Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam. Ditambah lagi dengan perjuangan panjang nan heroik yang dilakukan oleh para pejuang Aceh terhadap usaha dominasi kolonial Balanda sejak akhir abad ke 19, semakin menambah daftar situs sejarah yang terdapat hampir di seluruh penjuru wilayah Aceh. Situs-situs tersebut menjadi bukti yang sangat berguna dalam memahami perjalan historis yang pernah terjadi di wilayah Serambi Mekah.
- Kondisi Objek Sejarah di Aceh Saat ini
Berbagai peninggalan sejarah yang ada di Aceh mengalami kehancuran oleh berbagai faktor baik disengaja ataupun tidak. Cukup banyak mesjid kuno yang dibangun pada abd ke-17 dihancurkan lalu diganti atau dibangun mesjid yang baru. Makam dengan berbagai jenis tipe nisan kubur mulai abad ke-13 hingga akhir Kerajaan Aceh abad ke-19 banyak terbengkalai, sebagian dijadikan batu pengasah oleh masyarakat setempat. Contoh lain dapat kita lihat misalnya bangunan-bangunan bersejarah seperti Balai Teuku Umar, Rumah tempat tinggal C.Snouck Hurgonje dan Hotel Aceh di Banda Aceh, yang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, semuanya sudah tidak ada lagi. Bangunan sudah berubah menjadi toko atau bentuk lainnya.
Contoh-contoh tersebut merupakan suatu pertanda bahwa kesadaran sejarah orang Aceh sangat kurang atau ada faktor lain yang memungkinkan hal ini terjadi, seperti kurangnya komitmen pemerintah terhadap peninggalan sejarah di Aceh atau pengetahuan masyarakat tentang peninggalan sejarah masih sangat kurang, faktor sanksi hukum yang tidak pernah diperlakukan bagi orang-orang yang merusak benda cagar budaya, atau alasan lain seperti konflik Aceh yang berlarut-larut sehingga penanganan masalah peninggalan sejarah di Aceh terabaikan.[4] Apapun faktornya, yang pasti banyak situs sejarah di Aceh yang rusak dan terabaikan.
Kondisi tersebut diperparah lagi dengan bencana Tsunami yang melanda Aceh tanggal 26 Desember 2004. Akibat gempa bumi dan tsunami tersebut banyak situs sejarah di Aceh yang rusak. Makam kuno seperti di Kampong Pande hancur berantakan, demikian juga makam Syiah Kuala, dan makam di Lampulo. Kerusakan cukup parah juga terjadi pada Makam Putroe Ijo di Desa Gampong Jawa, Mesjid Tengku Di Anjong di Desa Peulanggahan dan Gedung Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) yang berada di Jalan Profesor Abdul Madjid Ibrahim, Banda Aceh. Situs lainnya adalah masjid kuno di kawasan Ulee Lhueu, dan Gedung SMPN 1 Banda Aceh.[5]
Menurut Yenny Rahmayati, pendiri Aceh Heritage Community (AHC), problema warisan sejarah Aceh sebelum dan sesudah tsunami berbeda. Problema sebelum tsunami lebih kepada urusan kurangnya kepedulian masyarakat dan kurangnya perawatan terhadap situs. Sebaliknya, pasca tsunami problemanya lebih besar dan lebih komplek terutama berkaitan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi. Masalahnya bukan hanya sekedar kurang peduli atau kurang perawatan, tetapi ada isu tentang kerusakan situs yang parah atau justru harus dihancurkan demi pembangunan baru kota.Tambahan lagi, tidak adanya data base yang lengkap tentang situs warisan budaya menyulitkan untuk identifikasi ulang. Padahal identifikasi dan pencatatan itu dasar dari usaha konservasi.[6]
- Nilai Sejarah dari Objek Sejarah
Orang tidak akan mempelajari dan mengkaji sejarah kalau tidak ada gunanya. Kenyataan bahwa sejarah terus ditulis orang, di semua peradaban dan disepanjang waktu, sudah merupakan bukti yang cukup yang menandakan bahwa sejarah itu perlu. Menurut Kuntowijoyo, ada banyak kegunaan dari sejarah, di antaranya adalah sejarah berguna sebagai cara untuk mengetahui masa lampau dan sejarah juga berguna sebagai pendidikan keindahan.[7]
Para pengumpul benda-benda kuno yang melestarikan masa lampau untuk masa lampau itu sendiri, yang disebut antikuarian. Hal berbeda dilakukan oleh Direktorat Suaka Purbakala dan Peniggalan Sejarah yang melakukannya dengan tanggung jawab sejarah. Mereka melakukan perawatan terhadap situs-situs sejarah supaya ia tetap exist dan tidak hilang ditelan masa.
Sebagai pendidikan keindahan, dengan melihat dan mengunjungi situs-situs sejarah kita akan terbawa menembus waktu untuk menikmati bagaimana peristiwa sejarah itu dulu terjadi. Saat berkunjung ke kuburan Teuku Umar misalnya, kita akan teringat kembali bagaimana beliau dulu berjuang sampai titik darah penghabisan dalam mempertahankan wilayahnya dari usaha ekspansi kekuasaan Kolonial Belanda. Sejarah akan mengajarkan itu. Kita hanya diminta untuk membuka hati dan perasaan. Pengalaman estetika akan datang melalui mata waktu kita ke mesjid kuno, istana, tarian, kuburan, candi, kota, dan monumen.
Kita dengan mudah melihat masa lalu Eropa yang jauh, sebab museum-museum dengan mudah dapat kita temukan dan situs-situs sejarah terawat dengan sangat baik. Indonesia sebaliknya masih ketinggalan dalam pendidikan untuk mencintai tanah air lewat keindahan sejarah. Bahkan kita masih sering melihat adanya vandalisme terhadap situs-situs sejarah.[8]
Kecintaan terhadap sejarah haruslah dipupuk mulai dari generasi muda dalam usia sekolah. Dengan pemahaman yang baik terhadap aktualitas historis akan berimplikasi terhadap kecintaan mereka terhadap situs-situs sejarah yang ada di sekitar mereka. Oleh karenanya, guru sejarah mempunyai peran yang sangat sentral dalam usaha membangkitkan semangat tersebut. Pemahaman dan kecintaan terhadap sejarah sangat penting dalam upaya pembangunan kesadaran kolektif generasi muda Indonesia agar mengenali jatidiri sejarah, daerah, bangsa dan negaranya sehingga menjadi generasi yang memiliki karakter, moralitas dan akhlak mulia.[9]
Sejarah perlu diajarkan untuk mengembangkan pemahaman tentang diri sendiri. Tanpa sejarah, bangsa Indonesia tidak akan tahu apa artinya menjadi orang Indonesia. Tanpa sejarah, generasi muda tidak akan tahu kegigihan perjuangan yang dilakukan para pejuang untuk memperoleh kemerdekaan dan peran besar dari masing-masing tokoh pada zamannya dalam perjuangan kemerdekaan. Tanpa latar belakan historis, kita sebagai bangsa tidak akan dapat merencanakan sistem pendidikan yang merefleksikan etos hidup negara kita.[10]
- Penutup
Sebagai salah satu bukti aktualitas historis yang masih tersisa, situs sejarah memegang peranan penting untuk membuktikan dan menggambarkan bagaimana dinamika historis pernah terjadi di suatu lokalitas tertentu. Pemahaman historis tersebut sangat diperlukan bagi setiap individu untuk meningkatkan pemahaman tentang jatidirinya, bangsanya, dan tanah airnya. Pemahaman tersebut sangat dibutuhkan untuk meningkatkan rasa nasionalisme bagi bangsa Indonesia. Dan rasa nasionalisme tersebut sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan bangsa ini.
Sekolah merupakan salah satu tempat yang sangat penting untuk penanaman kecintaan terhadap nilai-nilai historis. Ini berarti guru sejarah memegang peranan yang sangat vital terhadap proses tersebut. Guru sejarah menjadi ujung tombak dalam penyemaian nilai-nilai historis pada generasi muda. Di tangan guru sejarahlah nasib bangsa ini dipertaruhkan. ”Bersama sejarah, kita belajar jatuh cinta” tulis Kuntowijoyo.[11]
Daftar Pustaka
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/02/tgl/21/time/220052/idnews/296000/idkanal/10, diakses 20 Februari 2011
http://www.theglobejournal.com/kategori/seni-budaya/yenny-lestarikan-budaya-aceh-di-dublin.php, diakses 20 Februari 2011.
Ibrahim, Husaini. ”Peninggalan Sejarah dan Kesadaran Sejarah di Aceh: Suatu Tantangan Masa Depan”, Makalah disampaikan pada Konferensi Nasional Sejarah VIII , tgl.13-16 November 2006 di Jakarta.
Kegiatan Sarasehan Guru Bidang Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Budaya Aceh 2010, Balai Pelestarian Nilai Nilai Tradisional Banda Aceh.
Kochhar, S.K. 2008. Teaching of History. (terjemahan H. Purwanta dan Yovita Hardiwati). Jakarta: Grasindo.
Kuntowijoyo.1999. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarata: Yayasan Benteng Budaya.
Tosh, John. 1983. The Pursuit of History. London: Longman.
[3] John Tosh, The Pursuit of History. London: Longman, 1983, hlm. 95.
[4] Husaini Ibrahim, ”Peninggalan Sejarah dan Kesadaran Sejarah di Aceh: Suatu Tantangan Masa Depan”, Makalah disampaikan pada Konferensi Nasional Sejarah VIII , tgl.13-16 November 2006 di Jakarta.
[5]http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/02/tgl/21/time/220052/idnews/296000/idkanal/10, Lihat juga Husaini Ibrahim, Ibid.
[6] http://www.theglobejournal.com/kategori/seni-budaya/yenny-lestarikan-budaya-aceh-di-dublin.php/Akses 07-03-2010, 23.24 pm
[7] Ada setidaknya dua sikap terhadap sejarah setelah seorang mengetahui masa lampaunya, yaitu melestarikan atau menolak masa lampau mereka. Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarata: Yayasan Benteng Budaya, 1999, hlm. 19-22.
[8] Ibid.
[9] Kegiatan Sarasehan Guru Bidang Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Budaya Aceh Tahun 2010, hlm. 4.
[10] S. K. Kochhar, Teaching of History. (terjemahan H. Purwanta dan Yovita Hardiwati). Jakarta: Grasindo, 2008, hlm. 28.
[11] Kuntowijoyo, ibid, hlm. 31.
Be smart with your money and use Publico’s student discount codes www.publico.es/descuentos to score amazing deals! Our discounts are designed with students in mind, so you can get the most bang for your buck. With our coupon codes, you can save big on everything from laptops to clothing. Don’t miss out on the opportunity to save with Publico!