MUSEUM BAGI PENDIDIKAN SEJARAH NASIONAL

Oleh : Said Hamid Hasan

PENDAHULUAN

 

Museum adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Pada saat sekarang dapat dikatakan bahwa tidak ada bangsa atau negara di dunia yang tidak memiliki museum. Ada bangsa yang memiliki banyak museum tetapi tidak ada bangsa yang tidak memiliki museum. Seolah-olah museum menjadi suatu persyaratan untuk kehadiran suatu bangsa.

 

Perlakuan dan perhatian masyarakat terhadap museum juga beragam. Ada masyarakat dan bangsa yang selalu bangga akan museum yang mereka miliki, memeliharanya dengan baik, menyediakan dana yang cukup untuk memelihara gedung dan barang-barang yang tersimpan di dalamnya. Museum dijadikan bagian dari gambaran bangsa dan oleh karenanya dijadikan program utama dalam turisme. Pembicaraan setiap generasi menunjukkan kebanggaan akan prestasi bangsa yang terekam di museum.

 

Perlakuan lain juga terjadi terhadap museum. Museum dianggap barang dibuang sayang. Mau dihapus keberadaannya takut dianggap sebagai bangsa yang tidak memperhatikn sejarah bangsanya atau bahkan mungkin takut dianggap sebagai bangsa yang kurang beradab. Ingin memberikan perhatian terhadap museum takut pada konsekuensi pendanaan yang tidak kecil sementara itu museum tidak memberikan keuntungan ekonomi. Akibatnya, museum seperti kata pepatah ”kerakap hidup di batu, mati segan hidup tak mau”.

 

Tampaknya tingkat kesejahteraan masyarakat  berpengaruh terhadap perlakuan dan perhatian terhadap museum tetapi tidak dominan. Di negara dimana masyarakatnya sudah menikmati kehidupaan ekonomi yang sudah baik, perhatian dan perlakuan terhadap museum sangat baik. Negara-negara seperti Inggeris, Amerika Serikat, Jepang adalah contoh yang dapat mewakili kelompok ini. Meski pun demikian terlihat pula negara yang kurang baik tingkat kehidupan juga memiliki perlakuan dan perhatian yang sama baiknya dengan negara-negara kelompok sejahtera tersebut. Negara-negara seperti Rusia, Cina, India adalah beberapa contoh dari kelompok ini.

 

Kiranya selain kemauan politik, politik memegang peran penting dalam mempersiapkan masyarakatnya bagi kehidupan masa depan bangsa. Melalui pendidikan karakter bangsa dibentuk dan dikembangkan melalui pengembangan potensi indiividu peserta didik. Melalui pendidikan dihasilkan manusia yang memiliki perhatian, kepedulian, dan kemauan untuk menjadikan museum sebagai bagian rohani bangsa dan memelihara museum dengan segala konsekuensinya. Faktor yang menentukan dalam pendidikan untuk membangun karakter bangsa yang demikian adalah kurikulum dan kurikulum pendidikan sejarah adalah yang paling dekat, relevan, dan potensial dalam mengembangkan kualitas bangsa yang memperhatikan bagaimana bangsa ini dilahirkan melalui berbagai peninggalan yang tersaji di museum.   

 

 

MUSEUM NASIONAL

 

Seperti yang telah dikemukakan di atas sebuah museum tidak mungkin memiliki koleksi lengkap hasil prestasi kebudayaan masyarakat. Meski pun demikian, kiranya sebuah museum nasional harus dapat memiliki benda/peninggalan mengenai hasil seni, ilmu, teknologi, pendidikan, ekonomi, agama, lingkungan fisik suatu wilayah, dan bukti-bukti perkembangan suatu wilayah. Untuk setiap benda diperlukan informasi singkat yang dapat memberikan bimbingan kepada pengetahuan awal mengenai benda tersebut.

 

Museum nasional dapat diartikan sebagai sesuatu bangunan yang menyimpan berbagai hasil kebudayaan nasional. Dalam makalah ini museum nasional lebih diartikan sebagai suatu sistem yang menempatkan museum yang ada di berbagai lingkungan masyarakat dan daerah dalam suatu jaringan. Dengan pengertian ini maka suatu museum yang berada di sebuah daerah tertentu dan menyimpan peninggalan daerah terseebut, seperti museum waruga di Sulawesi Utara dan museum lainnya, sebagai bagian dari jaringan museum nasional.

 

 

PERAN MUSEUM

 

Museum adalah lembaga yang diperlukan masyarakat karena museum berperan dalam banyak hal, antara lain:

 

  1. Menyimpan kekayaan kebudayaan masyarakat tersebut dan masyarakat lainnya. Sebuah gedung museum akan menyimpan banyak benda yang merupakan hasil dari kebudayaan masyarakat setempat. Hasil-hasil kebudayaan tersebut menyimpan banyak informasi dari masyarakat masa lalu. Hasil-hasil kebudayaan tersebut menggambarkan berbagai aspek kehidupan masyarakat walau pun harus diakui bahwa dapat dikatakan tidak ada satu pun museum yang memiliki hasil kebudayaan yang lengkap. Museum yang bersifat khusus sekali pun tidak mungkin memiliki koleksi yang lengkap. Ketidaklengkapan koleksi tersebut adalah sesuatu yang wajar tetapi tidak mengurangi peran yang dimiliki sebuah museum.
  2. Menjadi tongkat kesinambungan budaya masa lalu dengan masa kini. Masa kini ada karena adanya masa lampau. Kehadiran masa lampau hanya dapat dikenal dan diketahui dari peninggalan yang mereka hasilkan dan dapat dikoleksi orang masa kini. Orang dapat mengetahui prestasi yang telah dihasilkan tersebut untuk mengetahui keadaan yang dimiliki masyarakat masa kini. Oleh karena itu peninggalan yang tersimpan di suatu museum merupakan tongkat estafet yang menghubungkan masyarakat masa kini dengan masyarakat masa lampau yang mungkin leluhurnya tapi mungkin juga leluhur masyarakat lain.
  3. Sumber belajar dan inspirasi masyarakat. Prestasi masa lampau akan menjadi sumber belajar dan sumber bagi masyarakat jika mereka terlatih untuk itu. Bagi mereka yang terlatih menghargai prestasi yang tercermin dari hasil kebudayaan yang terdapat di museum maka mereka dapat membaca pelajaran yang tersimpan pada koleksi tersebut. Berdasarkan bacaan tersebut maka mereka dapat menggunakannya untuk menghasilkan karya yang lebih baik, diperlukan masyarakat masa kini, berdasarkan pengetahuan dan teknologi yang dimiliki masa kini. Di dalam sebuah karya selalu tersimpan pengetahuan mengenai cara menghasilkan benda tersebut, dedikasi dalam mengerjakannya, kesabaran, kepedulian akan mutu, dan ketrampilan dalam mengerjakannya.
  4. Berfungsi untuk memberikan suasana rekreasi bagi masyarakat. Fungsi rekreasi ini bukan sesuatu yang sederhana karena fungsi ini baru dapat dinikmati jika seseorang memiliki kemampuan memperlakukan koleksi suatu museum sebagaimana yang dikemukakan di bagian c. Tanpa memiliki kemampuan menjadikan koleksi tersebut sebagai sumber belajar dan sumber inspirasi maka seorang pengunjung museum tidak dapat menikmati apa yang dilihatnya di museum. Benda atau pun peninggalan lainnya hanya akan dinimkatinya dari tampak-luarnya saja. Artinya, seseorang yang melihat suatu kapak genggam hanya akan kagum pada bentuk dan halusnya permukaan kapak tersebut. Orang tersebut tidak dapat menikmati ide yang menghasilkan kapak genggam tadi, teknologi yang digunakan sehingga menghasilkan bentuk yang diinginkan dan permukaan yang halus, waktu yang menunjukkan dedikasi dalam mengerjakan benda tersebut. Hal yang sama akan terjadi ketika orang tersebut melihat koleksi museum lainnya.
  5. Secara khusus sebuah museum memiliki manfaat bagi sejarah sebagai sumber informasi mengenai kehidupan masyarakat di masa lampau. Sumber informasi yang sesungguhnya tentu saja benda-benda yang menjadi koleksi museum tersebut. Selain itu benda-benda peninggalan yang ada itu merupakan bukti konkrit bagi sejarah mengenai keberadaan masa lampau tersebut. Sejarawan masih mungkin berbeda pendapat mengenai keaslian suatu dokumen atau isi dokumen tetapi keberadaan dokumen itu sendiri adalah suatu bukti konkrit mengenai kehidupan pada masa itu.

 

 

PRINSIP KURIKULUM PENDIDIKAN SEJARAH

 

Untuk mendapatkan hasil pendidikan sejarah yang berguna bagi kehidupan peserta didik dan masyarakat maka suatu kurikulum pendidikan sejarah haruslah dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut ini:

 

  1. Berdasarkan lingkungan terdekat peserta didik

 

Setiap kurikulum haruslah memperhatikan prinsip-prinsip pendidikan. Pada dasarnya kurikulum adalah penterjemahan dari prinsip-prinsip pendidikan. Salah satu prinsip pendidikan ialah bahwa pendidikan harus bermula dari lingkungan terdekat dan berkembang sampai lingkungan terjauh. Lingkungan tersebut terdiri dari lingkungan budaya, lingkungan sosial, lingkungan ekonomi, lingkungan fisik, beserta keseluruhan aspek yang ada di dalamnya seperti ilmu, teknologi, dan kekayaan lainnya. Dengan prinsip ini maka kurikulum pendidikan sejarah haruslah dimulai dari peristiwa sejarah yang ada di lingkungan paling dekat seperti keluarga, komunitas, masyarakat, bangsa, bangsa lain, dan komunitas internasional. Peristiwa sejarah yang diperkenalkan kurikulum haruslah beranjak dari peritiswa yang bersifat individual keluarga, peristiwa yang membentuk ”collective memory” komunitas tersebut. Dalam konteks komunitas ini maka museum merupakan lembaga yang memperlihatkan bukti-bukti konkrit dari peninggalan sejarah yang terjadi di komunitas tersebut. Dengan demikian, komunitas tersebut harus memiliki museum yang menyimpan koleksi mengenai prestasi komunitas itu di masa lampau dan dalam berbagai aspek kehidupan. kurikulum pendidikan sejarah harus mampu memanfaatkan museum yang ada di komunitas tadi.

 

  1. Belajar dari yang konkrit ke yang abstrak

 

Sejarah adalah materi pelajaran yang sangat abstrak. Konsep-konsep yang digunakan dalam sejarah seperti negara, bangsa, kemerdekaan, revolusi, dan sebagainya merupakan hasil abstraksi tinggi dan memerlukan kemampuan intelektual tinggi untuk memahaminya apalagi untuk anak usia SD. Konsep-konsep abstrak tersebut banyak pula yang tidak dimengerti oleh mereka yang sudah di SMP dan SMA. Meski pun demikian harus diingat bahwa suatu konsep yang abstrak adalah hasil dari proses berfikir dari sesuatu yang konkrit. Keberadaan museum sangat membantu proses berfikir peserta didik dalam belajar sesuatu yang abstrak dari sesuatu yang konkrit.

Benda-benda yang ada di museum adalah sesuatu yang konkrit. Mereka dapat dilihat, diraba, dipegang, dan diamati atau dibaca. Dari benda yang konkrit itu peserta didik dapat diajak untuk mengembangkan kemampuan berfikir abstraknya tentang masyarakat masa lalu yang menggunakan benda-benda tersebut. Proses pembelajaran ini akan jauh lebih mencapai sasaran dibandingkan dengan proses pembelajaran yang langsung memperkenalkan sesuatu yang abstrak.

 

  1. Belajar untuk berfikir haruslah sudah menjadi prinsip dalam kurikulum pendidikan sejarah. Kemampuan berfikir yang harus menjadi prinsip dalam pengembangan kurikulum pendidikan sejarah adalah berfikir kronologis,  berfikir kritis dan berfikir kausalistis. Berfikir kronologis adalah berfikir menurut suatu tata urutan waktu. Tata urutan waktu tersebut dapat berbentuk progresif tetapi dapat juga berbentuk regresif. Tata urutan waktu yang progresif adalah tata urutan dari waktu yang paling tua ke waktu yang paling muda. Sedangkan tata urutan waktu regresif adalah kebalikannya yaitu tata urutan dari waktu yang paling muda ke waktu yang paling tua. Koleksi yang ada di sebuah museum akan memberi kesempatan yang sangat baik bagi peserta didik dalam melatih kemampuan berfikir kronologis. Mereka akan langsung menerapkan apa yang sudah dipelajari di kelas pada suatu situasi nyata, bukan karena menghafalkan pekerjaan yang dilakukan orang lain. Berfikir kritis menurut Robert Harris (2001) dalam tulisannnya yang berjudul      “Introduction to Critical Thinking”, mengemukakan bahwa berfikir kritis adalah “a habit of cautious evaluation, an analytic mindset aimed at discovering component parts of ideas and philosophies, eager to weigh the merits of arguments and reasons in order to become a good judge of them”. Dalam definisi ini jelas tergambarkan bahwa berfikir kritis itu adalah suatu habit, suatu kebiasaan yang  dikembangkan melalui pendidikan, dan dalam suatu proses panjang dan yang berkelanjutan. Disamping panjang dan berkesinambungan, roses pendidikan untuk mengembangkan kebiasaan memerlukan proses penguatan sehingga akhirnya kebiasan itu menjadi bagian dari jati diri seseorang (characterization). Menurut Harris (2001) kemampuan berfikir kritis memiliki  empat atribut. Seseorang baru dapat dikatakan memiliki kemampuan berfikir kritis apabila menguasai atau memiliki kemampuan keempat atribut tersebut. Keempatnya adalah analisis, perhatian atau attention, kesadaran atau awareness, dan pemberian pertimbangan yang independen. Kehadiran sebuah museum di suatu komunitas akan sangat membantu kurikulum pendidikan sejarah dalam mengembangkan kemampuan berfikir kritis yang dikemukakan Harris atau paling tidak kemampuan berfikir analisis. Berfikir kausalistis baru dapat dikembangkan setelah peserta didik menguasai kemampuan berfikir kronologis dan kritis. Ketika seorang peserta didik dapat melakukan kategori antara koleksi yang ada di museum maka mereka kemudian dapat mengembangkan kemampuan menentukan keterkaitan antara satu dengan lainnya, kemudian baru dapat menetapkan apakah bentuk keterkaitan itu bersifat kausalistis ataukah tidak. Keberadaan museum memberikan kesempatan nyata bagi peserta didik untuk menerapkan kemampuan berfikir dari pendidikan sejarah.

 

TUJUAN PENDIDIKAN SEJARAH

 

Tujuan adalah komponen yang dikembangkan untuk menunjukkan kualitas yang harus dimiliki peserta didik sebagai hasil belajar sejarah. Apa yang harus menjadi hasil belajar sejarah peserta didik sangat ditentukan oleh tugas yang diberikan kepada suatu kurikulum dalam menjawab tantangan masyarakat. Isi tujuan dapat saja berupa pengetahuan, kemampuan, sikap, nilai yang harus dimiliki peserta didik. Isi tujuan sangat ditentukan oleh pengertian operasional kurikulum, dan  dapat saja dikembangkan dari disiplin ilmu, karakter manusia, masyarakat, budaya, atau pun peserta didik (Tanner dan Tanner, 1980:84). Kemampuan yang harus menjadi hasil belajar peserta didik itu mungkin saja dikenal dengan istilah kompetensi, kemampuan atau istilah lainnya.

 

Kemampuan yang ingin dikembangkan kurikulum pendidikan sejarah dapat dirumuskan menjadi tujuan kurikulum pendidikan sejarah. Ketika kurikulum pendidikan sejarah ingin mengembangkan manusia cerdas maka kualitas yang harus dimiliki manusia cerdas menjadi tujuan kurikulum pendidikan sejarah. Ketika manusia cerdas itu antara lain diwakili oleh cara berfikir kritis maka atribut dari berfikir kritis yang telah dikemukakan di atas haruslah menjadi tujuan kurikulum[1]. Keempat atribut berfikir kritis haruslah tercantum dalam setiap tujuan yang dirumuskan guru bagi setiap pokok bahasan atau peristiwa sejarah yang dibahas. Pencantuman itu mengandung arti bahwa guru harus mengembangkan kemampuan itu melalui materi pokok bahasan dalam suatu proses pembelajaran. Sesuai dengan sifat dari setiap ketrampilan, sikap, nilai atau pun karakter maka pengembangannya tujuan pendidikan sejarah yang demikian haruslah dilakukan sepanjang tahun. Tentu saja dalam pengembangan tujuan pembelajaran guru harus memiliki jenjang kemampuan. Jenjang kemampuan tersebut digunakan dalam perencanaan pencapaian kemampuan sejak tahun pertama hingga tahun terakhir proses pendidikan sejarah yang dialami peserta didik di suatu unit pendidikan.

 

Secara kategorial, tujuan kurikulum pendidikan sejarah dapat dikelompokkan sebagai berikut:

 

  • Mengenal masyarakat dan bangsanya
  • Pengembangan kemampuan berfikir
  • Pengembangan semangat kebangsaan
  • Pengembangan kemampuan apresiasi
  • Penerapan kemampuan sejarah dalam kehidupan

 

Dari tujuan yang dikemukakan di atas, museum memiliki peran penting dalam proses pembelajaran sejarah dan sebagai sumber belajar. Kehadiran museum akan mampu mengubah proses pendidikan sejarah dari suatu proses kajian terhadap barang jadi (cerita sejarah) kepada proses yang berhubungan dengan barang dasar (sumber).

 

Untuk mengenal masyarakat dan bangsanya seseorang harus mengenal apa yang sudah terjadi dalam masyarakat dan bangsanya di masa lalu melalui hasil karya mereka. Museum adalah tempat untuk menyimpan berbagai karya masyarakat dan bangsa di masa lalu. Tentu tidak semua hasil karya tersebut dapat disimpan oleh sebuah museum tetapi ketiadaan museum menyebabkan suatu kehilangan besar bagi masyarakat dan bangsa. Keberadaan museum pada lingkup masyarakat yang paling kecil (desa, kelurahan atau paling tidak kecamatan) akan sangat membantu generasi muda mengenal dirinya.

 

Pengembangan semangat kebangsaan hanya dapat dilakukan melalui pengenalan terhadap masyarakat dan bangsanya dan apresiasi terhadap prestasi masa lalu. Oleh karena itu tujuan pendidikan sejarah untuk mengembangkan semangat kebangsaan akan dapat dilakukan secara positif dan kuat melalui pengenalan masyarakat terdekatnya berkembang ke masyarakat bangsanya melalui prestasi-prestasi bangsanya. Peserta didik harus dapat mengkaitkan prestasi yang telah dihasilkan masyarakat masa lalu dengan tantangan yang mereka hadapi serta keunggulan dan kekurangan dalam menjawab tantangan tersebut. Dengan kemampuan berfikir kronologis, kritis, dan analitis yang mereka miliki, peserta didik dapat menghargai prestasi tersebeut dan dengan cara ini maka sikap positif terhadap prestasi masa lampau akan terbentuk. Pendidikan sejarah dapat menggunakan prestasi masa lalu sebagai titik berangkat untuk mengembangkan berbagai alternatif yang dapat dikemukakan peserta didik untuk menjawab tantangan kehidupan masa kini dengan prestasi-prestasi baru yang sesuai.  Melalui pendekatan menggabungkan pengembangan semangat kebangsaan dengan kemampuan apresiasi dan penerapan kemampuan dari pelajaran sejarah untuk kehidupan masa kini maka pelajaran sejarah akan menjadi pelajaran yang sangat hidup. Museum juga tidak lagi menjadi tempat koleksi barang mati tetapi melalui pendidikan sejarah menjadi modal untuk mengembangkan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.

 

 

MUSEUM SEBAGAI SUMBER MATERI PENDIDIKAN SEJARAH

 

Museum adalah salah satu bentuk lembaga untuk koleksi karya dan prestasi masyarakat di masa lampau.  Tentu saja museum tidak harus dalam bentuk suatu bangunan yang membatasi kemampuan koleksi tersebut. Museum dapat berbentuk sebagai suatu bangunan yang menyimpan karua dan prestasi masyarakat di masa lampau tetapi dapat juga berbentuk suatu situs atau lingkungan fisik tertentu. Keberadaan museum akan menjadi lebih berarti jika dikaitkan dengan pendidikan sejarah karena museum memberikan fasilitas belajar sejarah yang sangat menguntungkan dan merupakan bagian sumber belajar sejarah yang nyata.

 

Sebagai sumber belajar belajar keberadaan museum akan sangat mendukung pendekatan kurikulum yang dikenal dengan nama expanding community approach (ECA). Melalui koleksi museum peserta didik dapat menggunakan sumber yang paling dekat dengan lingkungan budaya dan masyarakatnya. Kemudian dapat mengetahui lingkungan yang lebih luas melalui informasi atau pun kunjungan langsung (jika dimungkinkan) ke museum di lingkungan yang lebih luas dari lingkungan dirinya.

 

Sebagai sumber yang tak ternilai bagi pendidikan sejarah museum memberikan kemungkinan yang tak terbatas bagi peserta didik untuk dilatih ke arah ”learning by observing” pada berbagai hasil karya dan prestasi masyarakat dan bangsanya. Tanpa museum pendidikan sejarah tidak mungkin melakukan proses pendidikan ”learning by observing” sedangkan kemampuan yang diperoleh dari ”learning by observing” sangat penting sebagai salah satu kemampuan yang dapat digunakan untuk mempelajari apa yang sedang terjadi di masyarakat dan mendekatkan sejarah sebagai pelajaran untuk kehidupan.

 

Koleksi yang dimiliki suatu museum merupakan sumber belajar konkrit bagi peserta didik dan dapat mengurangi verbalistis belajar sejarah. Dari benda konkrit yang mereka amati yang dijadikan sumber sejarah mereka akan sedikit demi sedikit diajak ke jenjang berfikir abstrak yang makin lama makin tinggi. Lagi pula dengan adanya koleksi tersebut pendidikan sejarah dapat menerapkan proses pendidikan ”concept”, ”concept formation”, dan ”concept discrimination” yang akan menjadi dasar kuat bagi pengembangan kemampuan berfikir analitis dan kausalitistis.

 

Pengamatan langsung terhadap benda-benda yang menjadi koleksi sebuah museum akan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengagumi kemampuan masyarakat yang menghasilkannya. Peserta didik diberi kesempatan yang luas untuk mengetahui bagaimana suatu karya atau prestasi dihasilkan. Setiap karya dan prestasi memerlukan ketrampilan, dedikasi, waktu, inisiatif, dan rsiko.  Atas dasar ini maka apresiasi dapat dikembangkan tetapi juga karya dan prestasi itu  menjadi sumber inspirasi bagi peserta didik. Mereka akan melihat bahwa mereka pun akan mampu menghasilkan prestasi yang sama atau lebih baik dan lebih sesuai dengan masa kini.

 

 

PROSES PEMBELAJARAN SEJARAH

 

Proses pendidikan sejarah yang menggunakan museum memerlukan waktu dan oleh karena itu tidak dapat dilakukan setiap saat dan untuk setiap pokok bahasan. Dalam perencanaan pembelajaran atau silabus, guru harus memilih kapan museum akan digunakan dan peserta didik sudah diberi tahu sejak awal. Pokok bahasan yang berkaitan dengan sejarah lokal tentu merupakan prioritas tetapi tidak menutup kemungkinan untuk pokok bahasan yang bersifat nasional.

 

Langkah-langkah pembelajaran yang dapat dilakukan guru adalah sebagai berikut:

 

  • Pemberian informasi awal tentang museum dan benda yang ada di museum
  • Fokus pada masa tertentu dan objek tertentu
  • Pengembangan kemampuan mengobservasi objek
  • Observasi objek
  • Mencatat informasi dari hasil observasi
  • Menuliskan gambaran tentang objek
  • Merekonstruksi posisi objek dalam cerita sejarah

 

ASESMEN HASIL BELAJAR SEJARAH

 

Asesmen hasil belajar sejarah yang menggunakan museum memerlukan teknik pengumpulan informasi yang berbeda dari tes. Tes hanya mampu memberikan informasi mengenai pengetahuan peserta didik mengenai koleksi apa saja yang dimiliki suatu museum dan pengetahuan tentang koleksi itu berdasarkan sumber tertulis yang disediakan museum atau sumber lainnya. Tes tidak mampu memberikan informasi mengenai hasil belajar yang dikembangkan melalui proses pembelajaran yang dikemukakan di atas.

 

Untuk mendapatkan informasi mengenai pengetahuan, pemahaman, kemampuan, sikap, apresiasi sebagaimana dikembangkan dalam proses pembelajaran sejarah yang dikemukakan di atas asesmen hasil belajar pendidikan sejarah yang menggunakan museum sebagai sumber belajar haruslah memanfaatkan asesmen portofolio. Dengan cara ini maka laporan peserta didik yang dibuat sebagai hasil kunjungan ke museum harus meliputi objek yang diobservasi, bagaimana observasi itu dilakukan, informasi apa yang diperoleh dari objek terseebut, pendapat tentang objek dan informasi yang diperoleh, dan cerita sejarah yang dapat dibangun berdasarkan informasi yang diperoleh dari pengamatan dan dari sumber lain.

 

Untuk tingkat SD tentu disesuaikan dengan jenjang kematangan peserta didik. Untuk mereka yang belum memiliki kemampuan menulis cerita tentu saja laporan tersebut dapat bersifat cerita yang sederhana. Sedangkan untuk mereka yang sudah mampu membuat cerita laporan tersebut dibuat secara tertulis dan pada tingkat rincian yang sesuai.

 

KESIMPULAN

Dari pembahasan yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan:

  1. Museum juga tidak lagi menjadi tempat koleksi barang mati tetapi melalui pendidikan sejarah menjadi modal untuk mengembangkan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.
  2. Keberadaan museum pada lingkup masyarakat yang paling kecil (desa, kelurahan atau paling tidak kecamatan) akan sangat membantu generasi muda mengenal dirinya.
  3. Sekolah perlu memiliki informasi mengenai koleksi dari museum yang jauh dari lingkungan terdekatnya baik yang berada di kabupaten/kota lain, propinsi lain, dan museum tingkat nasional.
  4. Pendidikan Sejarah harus dapat menggunakan museum untuk mengembangkan tujuan pendidikan sejarah yang utama yaitu mengenal masyarakat dan bangsanya, pengembangan kemampuan berfikir, pengembangan semangat kebangsaan, pengembangan kemampuan apresiasi,  dan penerapan kemampuan sejarah dalam kehidupan.
  5. Pendidikan sejarah yang menggunakan museum sebagai sumber belajar dapat mengembangkan kepedulian peserta didik terhadap museum dan pada gilirannya sebagai anggota masyarakat mereka akan berbuat positif terhadap keberadaan dan kelengkapan koleksi museum mereka.

 

DAFTAR BACAAN

Jakubowski,C.T.(2002). Teaching World History: Problems and Promises Faced by Young Teachers. World History Bulletin. XVIII, 2.

Borries, Bodo von (2000). Methods and Aims of Teaching History in Europe: A Report on Youth and History, dalam Knowing Teaching & Learning History: National and International Perspectives (Eds. Stearns, P.N., Seixas,P., Wineburg,S.). New York: New York University Press.

California State Board of Education (2000).History-Social Science Content Standards for California Public Schools: Kindergarten through Grade Twelve. Sacramento: California Department of Education

Gordon, B. (2003). Intelligent Memory: A Prescription for Improving Your Memory” New York: Penguin Books

Hasan,S.H. (2003). Strategi Pembelajaran Sejarah Pada Era Otonomi Daerah Sebagai Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Makalah 

Harris, R.  (2001) Introduction to Critical Thinking http://www.virtualsalt.com/ think/introct.htm (January 1, 2001)

Hess, F.M. (1999). Bringing the Social Sciences Alive: 10 Simulations for History, Economics, Government, and Geography. Boston: Allyn and Bacon.

Hursh,D.W. dan E.W. Ross (2000). Democratic Social Education: Social Studies for Social Change. New York: Palmer Press.

Koblin, D. (1996). Beyond the Textbook: teaching history using documents and primary sources. Portsmouth, NH: Heinemann.

Levstik,L.S. (2000). Articulating the Silences: Teachers’ and Adolescents’ Conceptions of Historical Significance, dalam Knowing Teaching and Learning History: National and International Perspectives, Knowing Teaching and Learning History: National and International Perspectives, ed. Stearns,P.N., P. Seixas, dan S. Wineburg.

Lindquist,T. (1995). Seeing the whole through social studies. London: Heinemann

Longsreet, W.S. dan Shane, H.G. (1993). Curriculum for a New Millenium. Needham Heights, MA: Allyn & Bacon

Ministry of Education (?). Social Studies in the New Zealand Curriculum. Wellington: Learning Media.

NCSS (1994). Curriculum standards for social studies: expectations of excellence. Washington,D.C.: NCSS

Nebraska, State Board of Education (1998). Nebraska Social Studies/History Standards: Grades K-12. [Online]. Tersedia: http://www.nde.state.ne.us/SS/SocSStnd.html. (25 Mei 2001).

New York State Department of Education (1996). Learning Standards for Social Studies. Albany: The State Department of Education

NIER (1999). An International Comparative Study of School Curriculum. Tokyo: National Institute for Educational Research.

North Carolina State Board of Education (2004). North Carolina Standard Course of Study. Available at http://www.ncpublicschools.org/curriculum/foreword

O’Donnell, S., et al.(2002). International Review of Curriculum and Assessment Frameworks. Comparative Tables and Factual Summaries-2002.  London: National Foundation for Educational Research

Oliva, P.F. (1997). Developing the Curriculum, 4th ed., New York: Longman

Tanner, D. dan Tanner, L.N. (1980). Curriculum Development: Theory into Practice. New York: Macmillan Publishing Co., Inc.

ka.ada gilirannya sebagai anggota masyarakat mereka akan berbuat positif terhadap keberadaan dan kelengkapan koleksi museum mer

[1] Harus diakui bahwa tujuan pendidikan sejarah tidak terbatas hanya pada pengembangan peserta didik menjadi manusia cerdas. Pendidikan sejarah juga memiliki tujuan lain seperti pengembangan semangat kebangsaan, toleransi, kerjasama, cara ber4fikir sejarah, dan sebagainya. Sesuai dengan judul tulisan ini maka pembahasan difokuskan pada tujuan menghasilkan manusia cerdas dalam pengertian yang telah dibahas di bagian awal tanpa mengabaikan tujuan pendidikan sejarah lainnya.