Yoshimi, Sunya. (2000). Consuming ‘America’ : From Symbol to System

Penulis: Wildan Insan Fauzi

 

  1. Konsep yang dikembangkan

Konsep yang dipakai Yoshimi untuk menguraikan tranformasi masyaraat Jepang tersebut adalah amerikanisasi; imperialisme budaya, domestifikasi budaya, internalisasi, eksternalisasi, eksotisasi, dan fiksionalisasi.

  1. Symbol

Uraian Yoshimi  dimulai dengan proses historis pemaknaan ‘America’ (amerikanisasi Jepang) sebelum PD 2 (tahun 1920-1930an); setelah PD 2 (Akhir 1940 – 1960an); dan sejak 1970an. Pada tahun 1920-an, Amerika dipandang sebagai simbol kekayaan dan kebaruan. Amerikanisme berkembang pesat di Jepang secara luas di akhir tahun 1920-an.  Setelah Perang Dunia II, Amerika dipandang sebagai lambang emansipasi dan perlawanan. Namun, dengan pesatnya perkembangan ekonomi di Jepang, pada tahun 1970an, pandangan-pandangan tersebut berubah. Amerika tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang dikagumi, tetapi dilihat seperti artefak yang dikonsumsi.

 

  1. System

Proses Amerikanisasi/Westernisasi Jepang sejak 1970 tidak lagi disebut sebagai imperialisme budaya, bukan juga domestifikasi budaya, tetapi menjadi pemaknaan yang melalui proses internalisasi (menyerap budaya amerika) dan eksternalisasi dijadikan produk/artefak untuk dijual kepada luar, kemudian menghasilkan strategi eksotisasi Jepang. Ada dua cara melihat cerminan masyarakat kontemporer Jepang dalam TDL:

  • Realitas di Jepang setelah tahun 1970 menjadi perpanjangan layar seperti konsep tiga dimensi film Disney. Contohnya terlihat dalam perubahan konsep pusat perbelanjaan Seibu yang mengikut konsep TDL, membaginya dalam tiga konsep yang masing-masing berdiri sendiri.
  • Sebagaimana Disneyland menaklukkan “orang luar” dan menyulap mereka menjadi makhluk yang menggemaskan, masyarakat Jepang kontemporer juga melakukan wacana penaklukan orang asing. Contohnya terlihat pada konsep Pada awalnya, kawaii digunakan untuk menunjukkan perasaan saat berhadapan dengan anak-anak atau anak hewan yang terlalu lemah untuk membela dirinya sendiri. Sebagaimana Disney mengubah tokoh kurcaci yang asing dalam kisah (awal) Snow White dan mengubahnya menjadi tokoh tujuh kurcaci yang menggemaskan, anak muda kontemporer di Jepang juga mensterilkan hal yang asing bagi mereka lalu mengubahnya ke dalam konsep kawaii di Never-Neverland. Dengan melihat dunia melalui wacana kawaii ini, mereka dapat menutup diri  atas masalah yang ada dalam dunia nyata.

 

  1. Perubahan Symbol ke Sistem

Inti perubahan yang dijelaskan oleh Yoshimi adalah bagaimana “Amerikanisme” yang dinilai “asing” yang berjarak secara geografis dan budaya, dijadikan masyarakat Jepang menjadi “milik sendiri”. Tokyo Disney Land pada kenyataannya adalah suatu strategi budaya sekaligus strategi pemasaran untuk memindahkan TDL ke dalam konteks geografis Jepang dengan adaptasi rasa lokal alias rasa Jepang. Dengan demikian, keberadaan TDL memperlihatkan proses mengubah “amerikanisasi” yang awalnya dianggap tabu, mendapat stigma negatif dari sebuah sistem masyarakat, perlahan menjadi simbol kekayaan, kemajuan, emansipasi, dan kemudian menjadi sesuatu yang layak untuk dinikmati dalam tatanan budaya masyarakat Jepang.

 

  1. Tokyo Disney Land

Ada lima wahana di TDL, yaitu: World Bazaar, Fantasyland, Adventureland, Westernland, dan Tomorrowland. Tiap wahana bersifat tertutup terhadap lainnya. Secara struktur, kondisi ini berbeda dengan kondisi taman hiburan modern pada masa itu yang mengadopsi konsep Julies Verne. Pengunjung menikmati wahana di Disneyland serupa seperti menonton film, beralih dari satu film ke film lainnya.

 

  1. Metode yang digunakan

Yoshimi mencoba menjelaskan kondisi masyarakat kontemporer Jepang melalui analisis tata ruang diskursif dari Tokyo Disney Land. Metode yang digunakan untuk memahami dinamika masyarakat Jepang kontemporer adalah dengan critical literature study dan Narrative review. Masalah yang diangkat oleh Yoshimi adalah “Bagaimana konstruksi ruang Tokyo Disney Land (TDL) merepresentasikan transformasi sosial masyarakat Jepang Kontemporer sejak 1970an?. Cara menjelaskan transformasi social masyaraat jepang dimulai dnegan menguraikan Amerikanisme di Jepang mulai dari tahun 1920-saat ini dengan mengedepankan gambaran masyarakat kontemporer Jepang (1970an-sekarang).

 

  1. Analisa

Terjadi perubahan pandangan pada masyarakat kontemporer Jepang dalam memaknai Amerika. Pada awalnya Amerika dipandang sebagai simbol kekayaan dan kebaruan, kemudian berkembang menjadi emansipasi dan perlawanan. Namun, kemudian, dengan pesatnya perkembangan ekonomi di Jepang, Amerika dipandang lebih sebagai artefak yang dikonsumsi oleh masyarakat.

Dengan berkembanganya ekonomi, masyarakat Jepang mulai mampu memiliki barang elektronik dan otomotif. Mereka melihat (mengonsumsi) hal tersebut dari Amerika, tetapi lalu membuatnya (menjadi) milik mereka sendiri. Kondisi seperti ini juga tergambar melalui konsep ruang dalam TDL. Ruang dalam TDL dipandang sebagai satu struktur yang kemudian mereka replika dalam membangun konsep pertokoan Seibu. Perubahan pemaknaan ini menggambarkan bagaimana Amerika yang awalnya dilihat sebagai sistem lalu kemudian mereka adaptasi dan mereka ambil dan dibuat sehingga pola-pola struktur Amerika tersebut masuk (dan bahkan oleh pemerintah Jepang sendiri didorong agar masuk)  ke dalam sistem mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *